<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058</id><updated>2012-01-11T11:26:26.596+07:00</updated><title type='text'>Garden of Thoughts</title><subtitle type='html'>Kewajiban Manusia adalah untuk Berusaha, Tapi hanya Tuhan-lah yang Menentukan Hasilnya.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>24</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-8157499233322662695</id><published>2009-02-25T14:25:00.000+07:00</published><updated>2009-02-25T14:37:48.484+07:00</updated><title type='text'>Artikel: Praktik Terbaik (Best Practice) Penilaian Tarif Sewa Properti</title><content type='html'>Praktik Terbaik (Best Practice) Penilaian Tarif Sewa Properti&lt;br /&gt;Oleh: Muhamad Nahdi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini, Direktorat Penilaian Kekayaan Negara (PKN) semakin sering mendapatkan ‘pesanan’ berupa penilaian terhadap sewa Barang Milik Negara (BMN).  Peraturan mengenai penetapan tarif sewa BMN sebenarnya sudah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 96 tahun 2007, namun formula penetapan tarif sewa tersebut dirasakan masih belum sesuai dengan kondisi pasar sewa yang sesungguhnya. Hal ini dibuktikan sendiri oleh Penulis yang menemukan bahwa dari beberapa pelaksanaan penilaian atas tarif sewa yang dilaksanakan oleh Direktorat PKN ditemukan tarif sewa berdasarkan formula PMK 96  tersebut tidak sesuai dengan tarif sewa pasar yang berlaku.&lt;br /&gt;Berdasarkan kenyataan ini, maka Penulis mencoba untuk menelusuri praktik terbaik (best practice) dalam menetapkan tarif sewa atas suatu properti sehingga bisa dijadikan sebagai acuan (benchmark) bagi Penilai di Indonesia, khususnya di Ditjen Kekayaan Negara, dalam melakukan penilaian atas tarif sewa properti.&lt;br /&gt;Formula Tarif Sewa berdasarkan PMK nomor 96 tahun 2007&lt;br /&gt;Sebagaimana telah diketahui bahwa untuk menentukan tarif sewa BMN, PMK nomor 96 tahun 2007 menggunakan formula sebagai berikut: &lt;br /&gt;Objek Penilaian Sewa Formula Tarif Sewa&lt;br /&gt;Tanah Kosong  3,33 % X Luas Tanah X Nilai Tanah &lt;br /&gt;Tanah dan Bangunan  (Sewa Tanah Kosong) + (6,64% X Luas Bangunan X Harga Satuan Bangunan dalam keadaan baru X Nilai Sisa Bangunan) &lt;br /&gt;Prasarana Bangunan  6,64% X Harga Prasarana Bangunan dalam keadaan baru X Nilai Sisa Prasarana Bangunan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan utama dari formula tersebut adalah ditetapkannya tingkat kapitalisasi sewa dengan besaran yang sudah pasti dan seragam untuk setiap situasi, kondisi, dan daerah yaitu: 3,33% untuk sewa tanah dan 6,64% untuk sewa bangunan atau prasarana bangunan.  Padahal, dalam teori penilaian yang sudah dibuktikan dengan praktik yang berlaku dimanapun, besaran tingkat kapitalisasi yang sama tidak bisa diaplikasikan untuk situasi, kondisi, dan daerah yang berbeda-beda.  &lt;br /&gt;Dengan menggunakan formula tersebut, Penulis menemukan kenyataan di lapangan bahwa hasil yang didapatkan dengan formula ini seringkali tidak ‘pas’ dengan selera pasar (umumnya lebih rendah dibandingkan dengan tarif yang berlaku di pasar).  Untuk itu, formula seperti yang tercantum dalam PMK nomor 96 tersebut perlu ditinjau kembali mengingat rendahnya tingkat keandalan nilai yang dihasilkan oleh formula tersebut.&lt;br /&gt;Dalam pandangan Penulis, penetapan tarif sewa BMN yang tidak sesuai dengan tarif yang berlaku di pasar akan merugikan negara.  Sumber kerugian negara tersebut berasal dari dua hal yaitu:&lt;br /&gt;1. Jika tarif sewa ditetapkan terlalu rendah, maka Negara berpotensi kehilangan penerimaan negara (bukan pajak) yang disebabkan oleh terlalu rendahnya penetapan tarif sewa.&lt;br /&gt;2. JIka tarif sewa ditetapkan terlalu tinggi, maka Negara berpotensi kehilangan penerimaan negara (bukan pajak) yang disebabkan oleh tidak adanya pihak ketiga yang mau menyewa BMN mengingat tarif sewa yang terlalu mahal.&lt;br /&gt;Pandangan ini juga dikemukakan oleh Finkel (2009), yang antara lain menyatakan bahwa penetapan harga sewa yang terlalu tinggi atas suatu properti akan menghabiskan waktu dan uang dari pemilik properti untuk membayar iklan.  Salah satu indikasi dari penetapan tarif sewa yang terlalu tinggi adalah sudah berapa lama properti tersebut ditawarkan di pasar? Semakin lama properti tersebut ‘beredar’ (baca: ditawarkan) di pasar maka dapat diduga properti tersebut ditawarkan terlalu mahal.&lt;br /&gt;Praktik Terbaik&lt;br /&gt;Untuk menelusuri adanya praktik terbaik tentang penilaian tarif sewa, Penulis melakukan studi pustaka yaitu dengan menelaah tulisan maupun artikel yang terkait dengan penilaian tarif sewa.  Berdasarkan hasil telaahan Penulis, ditemukan bahwa pendekatan penilaian yang hampir selalu digunakan terhadap penilaian tarif sewa adalah pendekatan data pasar. Finkel (2009) dalam artikelnya yang berjudul “How to Determine Rent for Your Lease Options” menyatakan bahwa:&lt;br /&gt;“Real estate is valued by what other people (known as the market) are willing to pay in order to use of the property. This is the market rent value of the property”&lt;br /&gt;Dari pernyataan tersebut tampak jelas bahwa Pendekatan Data Pasar menjadi pendekatan yang utama dalam melakukan penilaian terhadap tarif sewa.  Sebagai tambahan,  dalam artikel lain yang dikutip dari www.usrentallisting.com disebutkan :&lt;br /&gt;“The question you may be asking yourself is, "How much can I rent my house for?" This is an excellent question. In fact, before you decide to lease your property, you should find out what the fair market rent value is”&lt;br /&gt;Pernyataan ini semakin menegaskan penggunaan Pendekatan Data Pasar dalam menentukan tarif sewa atas suatu properti.  Jika kita telusuri lagi tulisan-tulisan maupun artikel-artikel terkait tentang penilaian tarif sewa maka dapat dipastikan bahwa penggunaan Pendekatan Data Pasar adalah hal yang sangat lazim digunakan untuk menilai tarif sewa.&lt;br /&gt;Satu hal yang perlu Penulis tegaskan adalah tarif sewa yang dihasilkan dengan Pendekatan Data Pasar bukanlah suatu nilai tunggal melainkan berupa ‘range’ suatu nilai.  Tidak ada ‘nilai tunggal’ yang dianggap benar dan mewakili nilai pasar, yang ada adalah ‘nilai wajar’ sehingga sepanjang hasil dari penilaian masih berada di dalam ‘range’ nilai yang wajar maka hal itu bisa diterima di dunia penilaian.  Namun, bila suatu nilai sudah berada di luar ‘range’ nilai yang wajar maka hal tersebut bisa dipertanyakan ‘kewajarannya’.  Hal ini juga ditegaskan oleh Finkel (2009) bahwa yang paling memungkinkan adalah mencari ‘range’ nilai wajar.  Demikian pula dalam artikel yang berjudul “How to Determine Rental Rates for Your Deals” yang dikutip dari http://articles.learntoberich.biz menyatakan bahwa:&lt;br /&gt;“rents are not fixed numbers even for the same house... So, when you do your research to determine what rent should be, realize it is going to be a range of numbers and not a single number”&lt;br /&gt;Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa praktik terbaik untuk menentukan tarif sewa adalah dengan menggunakan Pendekatan Data Pasar.  Dengan menggunakan pendekatan ini maka dapat diteliti lebih dalam lagi mengenai penentuan tingkat kapitalisasi dengan menggunakan salah satu formula dalam teori penilaian yang sudah baku yaitu:&lt;br /&gt;    Net Operating Income&lt;br /&gt;Value =  &lt;br /&gt;        Capitalisation Rate&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari persamaan di atas, bila kita asumsikan ‘Net Operating Income’ sebagai penghasilan pemilik properti dari sewa dan ‘Value’ sebagai nilai pasar properti, maka kita bisa menemukan besaran dari tingkat kapitalisasi (Capitalisation Rate) sewa yaitu:&lt;br /&gt;           Net Operating Income&lt;br /&gt;Cap Rate =  &lt;br /&gt;                       Value&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, tingkat kapitalisasi sewa yang berlaku di suatu daerah tergantung pada dua faktor yaitu besarnya tarif sewa pasar dan nilai pasar properti di daerah tersebut.  Berdasarkan persamaan tersebut di atas dapat dipahami bahwa tingkat kapitalisasi sewa untuk setiap situasi, kondisi, dan daerah akan berbeda-beda dan tidak dapat diseragamkan seperti halnya formula dalam PMK nomor 96.&lt;br /&gt;Dengan menggunakan pendekatan data pasar sebagai pendekatan utama, maka untuk dapat menentukan tarif sewa yang tepat atas suatu properti sudah barang tentu perlu dilakukan survei / penelitian tarif sewa yang berlaku di sekitar properti tersebut (disebut juga sebagai Rent Survey/ Research) dengan tujuan untuk mengetahui tarif sewa yang berlaku di daerah tersebut sehingga tarif sewa pasar dapat diketahui.  Setelah mengetahui tarif sewa pasar, maka bisa ditentukan tarif sewa yang ‘pas’ untuk properti kita dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian (adjustments) yang sesuai dengan situasi dan kondisi properti yang kita miliki.  Hal ini mirip dengan penilaian terhadap tanah dengan cara mencari data pembanding di pasar untuk kemudian dilakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan sehingga sesuai dengan situasi dan kondisi tanah yang dinilai.&lt;br /&gt;Survei Sewa Pasar&lt;br /&gt;Untuk menghasilkan data pembanding tarif sewa pasar yang dapat diandalkan, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh Penilai.  Tips berikut ini Penulis kompilasikan dari beberapa tulisan / artikel yang berhasil didapatkan yaitu dari http://www.creonline.com/ dengan judul “How to  Determine Rent for Your Lease Options” oleh David Finkel, http://articles.learntoberich.biz dengan judul “How to Determine Rental Rates for Your Deals”, www.usrentallisting.com dengan judul “How Do I Determine the Fair Market Rent for My House”, dan http://www.apartment-rental-listing-guide.info dengan judul “How to determine the optimal market rental rate?”  :&lt;br /&gt;1. Lakukan pencarian data tarif sewa pasar melalui internet.  Saat ini internet sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dunia penilaian karena menjadi sumber data yang masif dan cepat bagi Penilai dalam melakukan survei data pasar.  Namun, sudah pasti bahwa tidak semua data yang ditemukan di internet dapat diandalkan.  Penilai harus bisa menentukan dan memilih data mana yang dapat diandalkan, situs-situs apa saja yang bisa dipercaya, dan forum-forum apa saja yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber data.&lt;br /&gt;2. Lakukan pencarian data tarif sewa pasar melalui media cetak dan agen properti.  Beberapa media cetak seperti “Properti Indonesia” mempublikasikan nilai sewa ruangan di beberapa gedung perkantoran di Jakarta dalam tiap terbitannya.&lt;br /&gt;3. Lakukan survei ke lapangan dan tanyakan kepada orang atau penghuni lain di sekitar properti yang akan dinilai.  Pertanyaan sebaiknya disusun sedemikian rupa sehingga tidak bersifat ‘ofensif’.  Pertanyaan seperti: “Berapa harga sewa setahun yang Saudara bayar untuk menyewa kios ini?” akan terdengar ‘ofensif’ bagi responden.  Pertanyaan tersebut bisa diganti dengan: “Apakah Saudara tahu berapa sih orang lain bayar tarif sewa kios per bulannya di sini?” sehingga tidak terlalu ‘ofensif’ bagi responden.&lt;br /&gt;4. Pilih responden yang tepat.  Jika penilai mendapatkan jawaban dari orang yang tidak dalam kapasitasnya untuk menjawab maka tingkat keandalannya patut diragukan. Contoh responden yang keandalannya diragukan:  anak dari penyewa (apalagi kalau yang sekolahnya masih tingkat SMA ke bawah), pegawai/pelayan dari penyewa kios/toko, atau pemilik warung  di sekitar objek penilaian sewa.  &lt;br /&gt;5. Pilah lagi jawaban yang didapatkan dari hasil survey lapangan. Jawaban berikut ini termasuk yang kurang dapat diandalkan: “Wah, nggak tahu ya...kaya’nya sih sebulan 5 juta sewanya”, dan jawaban berikut bisa masuk kategori diandalkan: “Kalau saya sih bayar sewa sebulan 3 juta, pak Amir yang di sebelah saya 4 juta karena lebih gede kiosnya”.&lt;br /&gt;6. “Don’t be afraid to use your acting skills, when you are doing your research”.  Kalimat tersebut Penulis kutipkan dari artikel di www.usrentallisting.com dengan judul “How Do I Determine the Fair Market Rent for My House”.  Artinya lebih kurang adalah, “Jangan ragu untuk menggunakan keahlian aktingmu ketika melakukan survei lapangan”.  Hal yang lebih kurang sama dengan kalimat tersebut di atas juga Penulis temukan di artikel lain di http://www.apartment-rental-listing-guide.info dengan judul “How to determine the optimal market rental rate?” yang menyatakan bahwa salah satu cara survei sewa adalah dengan:”Become a ‘pretend’ renter”.&lt;br /&gt;7. Luangkan waktu yang cukup untuk melakukan survey lapangan sehingga data sewa pasar yang didapatkan benar-benar mewakili kondisi pasar.&lt;br /&gt;8. Mengenai jumlah data pembanding untuk penilaian tarif sewa, praktik terbaik yang Penulis dapatkan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Finkel (2009) menyatakan bahwa salah satu kesalahan yang paling umum dalam melakukan survei lapangan adalah dengan mendapatkan jumlah data pembanding ‘kurang dari 5 (lima)’.  Artinya, menurut Finkel (2009) jumlah data pembanding itu minimal 5 (lima).&lt;br /&gt;b. Dalam artikel di http://www.apartment-rental-listing-guide.info dengan judul “How to determine the optimal market rental rate?” disebutkan bahwa Surveyor disarankan untuk mengunjungi 10 – 15 tempat/kios/unit di apartemen di sekitar objek penilaian.&lt;br /&gt;Nah, bagaimana dengan di Indonesia? Penulis berpendapat bahwa semakin banyak jumlah data pembanding untuk penilaian tarif sewa maka semakin bagus juga untuk Penilai.  Namun, mengingat situasi dan kondisi pasar sewa di Indonesia yang tidak seterbuka pasar di negara-negara yang sudah maju, menurut hemat Penulis jumlah pembanding yang ideal di Indonesia minimal 3 (tiga) buah.  Kalau bisa lebih dari 3 (tiga) akan lebih baik.  Selain itu, kendala yang biasa dihadapi oleh Penilai, khususnya di DJKN, adalah terbatasnya waktu yang diberikan untuk melakukan penetapan tarif sewa sehingga survei lapangan tidak bisa dilakukan secara optimal.&lt;br /&gt;Simpulan&lt;br /&gt;Berdasarkan pemaparan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa penerapan formula tarif sewa untuk BMN sesuai dengan PMK nomor 96/2007 akan terus menerus berhadapan langsung dengan metode penilaian tarif sewa yang sesuai dengan praktik terbaik yang berlaku umum yaitu dengan menggunakan pendekatan data pasar.  Perbedaan diantara keduanya ada pada penetapan tingkat kapitalisasi sewa yang pada PMK 96 sudah diseragamkan untuk tiap situasi, kondisi, dan lokasi, sedangkan dengan pendekatan data pasar akan ditemukan tingkat kapitalisasi yang berbeda-beda untuk setiap situasi, kondisi, dan lokasi.  Penulis sendiri berpendapat bahwa Pendekatan Data Pasar adalah cara yang terbaik untuk menentukan tarif sewa atas suatu properti karena lebih mencerminkan kekuatan permintaan (demand) dan penawaran (supply) di pasar.&lt;br /&gt;By Muhamad Nahdi&lt;br /&gt;February 2009&lt;br /&gt;================= &amp;&amp;&amp; ====================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;• Finkel, David. 2009. “How to  Determine Rent for Your Lease Options”. http://www.creonline.com.&lt;br /&gt;• “How to Determine Rental Rates for Your Deals”. http://articles.learntoberich.biz  &lt;br /&gt;• “How Do I Determine the Fair Market Rent for My House”. www.usrentallisting.com &lt;br /&gt;• “How to determine the optimal market rental rate? .http://www.apartment-rental-listing-guide.info&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-8157499233322662695?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/8157499233322662695/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=8157499233322662695' title='21 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/8157499233322662695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/8157499233322662695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2009/02/artikel-praktik-terbaik-best-practice.html' title='Artikel: Praktik Terbaik (Best Practice) Penilaian Tarif Sewa Properti'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><thr:total>21</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-2573544145477091084</id><published>2008-12-22T08:15:00.006+07:00</published><updated>2008-12-22T09:28:38.020+07:00</updated><title type='text'>Tugas ke Eropa II: Copenhagen</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/SU7512W602I/AAAAAAAAADI/KdUuDrTcblE/s1600-h/IMG_7069small.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/SU7512W602I/AAAAAAAAADI/KdUuDrTcblE/s320/IMG_7069small.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282434116472197986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Masih seri lanjutan dinas ke negara-negara Scandinavia nih....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hari-hari yang sangat melelahkan di London, tim kami berangkat menuju kota berikutnya yaitu Kopenhagen (Denmark).  Kami berangkat dari London pada tanggal 22 November 2008 melalui bandara Heathrow sekitar jam 2 siang dengan menggunakan maskapai SAS (Scandinavian Airline System).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu terdengar pengumuman bahwa pesawat akan mendarat sekitar 10 menit lagi dan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;at the moment, there's a little snow rain....&lt;/span&gt;"  ,  kami melihat ke luar pesawat...yang terlihat adalah hamparan putih dan atap rumah-rumah yang ditutupi es serta pohon-pohon cemara yang juga ditutupi es.  Wah, langsung kebayang deh betapa dinginnya suasana di Kopenhagen. Tapi, ada senengnya juga karena harapan akan bertemu dengan salju dan hujan salju yang selama ini hanya terbayang-bayang akhirnya akan terwujud...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan benar saja, begitu kami mendarat di Kopenhagen dan melangkah ke luar bandara untuk menuju mobil dari KBRI Kopenhagen yang menjemput kami...BRRR....duuiiinggiin banget !! Suhu di luar ruangan saat itu adalah minus 5 derajat celsius.  Bahkan ketika saya berada di dalam mobil (yang pake heater), masih terasa dinginnya udara luar selama beberapa saat.  Tapi, itulah momen yang juga tidak akan saya lupakan karena inilah pertama kalinya saya ngelihat salju dan gundukan salju di pinggir jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara dingin yang menusuk-nusuk itu ternyata bertahan terus selama kami berada di Kopenhagen.  Jaket tebal, syal, sarung tangan, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;longjohn&lt;/span&gt; jadi pakaian wajib kami kalau kami mau ke luar ruangan.  Halaman gedung KBRI udah ketutup ama es semua deh...pokoknya jadi males banget kalau mau ke luar ruangan.  Satu hal yang paling saya tunggu-tunggu waktu di Kopenhagen adalah hujan salju, rugi dong kalau cuma ngelihat saljunya tapi gak pernah ngerasain hujan salju...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan ini baru terwujud pada hari kedua kami di Kopenhagen, ketika itu seorang teman yang sedang bekerja tiba-tiba berteriak "hujan salju...di luar ada hujan salju...".  Kami berlari ke luar ruangan, udah gak peduli lagi ama dingin dan kamipun berfoto-foto di bawah hujan salju sampai-sampai salah seorang staf KBRI Kopenhagen nyeletuk "kayak anak kecil aja...." he he...biarin ah, jarang-jarang kan ketemu hujan salju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kotanya sih Kopenhagen itu klasik banget, banyak bangunan-bangunan tua yang dipertahankan ama pemerintah.  Yang jadi ikonnya sih udah pasti si patung 'little mermaid' sebagai tanda perhormatan pada H.C. Andersen.  Berhubung waktu yang terbatas, ya kita gak bisa jalan-jalan terlalu lama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, itu Kopenhagen ya. Next Destination: HELSINKI...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-2573544145477091084?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/2573544145477091084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=2573544145477091084' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/2573544145477091084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/2573544145477091084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/12/tugas-ke-eropa-ii-copenhagen.html' title='Tugas ke Eropa II: Copenhagen'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/SU7512W602I/AAAAAAAAADI/KdUuDrTcblE/s72-c/IMG_7069small.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-2900276352165718062</id><published>2008-11-26T04:10:00.012+07:00</published><updated>2008-11-26T04:48:03.766+07:00</updated><title type='text'>Tugas ke Eropa I : London</title><content type='html'>Pada tanggal 17 November  - 8 Desember 2008, saya bersama rek&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/SSxwwrap-XI/AAAAAAAAACw/imAdpGiSU4U/s1600-h/IMG_7013.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 204px; height: 153px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/SSxwwrap-XI/AAAAAAAAACw/imAdpGiSU4U/s320/IMG_7013.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272713245334567282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;an-rekan dari DJKN dan Departemen Luar Negeri melakukan perjalanan dinas ke luar negeri, tepatnya ke Eropa yaitu London (Inggris), Kopenhagen (Denmark), Helsinki (Finlandia), Stockholm (Swedia), Oslo (Norwegia), dan Hamburg (Jerman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pikiran pembaca blog ini mungkin terpikirkan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wuah...asik banget tuh, bisa jalan-jalan ke Eropa...&lt;/span&gt;".  Sekali lagi saya tegaskan ya, biar pada nggak salah paham nih, bahwa kami melakukan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Perjalanan Dinas&lt;/span&gt;....bukan rekreasi, jadi turis, seminar, kursus, sekolah, apalagi cuma studi banding.  Sebagian besar waktu kami (yah, kira-kira 95% lah) tersita untuk bekerja di dalam ruangan.  Jadi, kalau saya ditanya nih: "Kota London itu seperti apa ya?"&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/SSxt67RMPuI/AAAAAAAAACY/bdyp4zNRzeY/s1600-h/IMG_7010.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 202px; height: 153px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/SSxt67RMPuI/AAAAAAAAACY/bdyp4zNRzeY/s320/IMG_7010.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272710122853646050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;, jawabannya adalah "setahu saya, London itu cuma KBRI doang"...he he...gitu lah kira-kira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu di London, kita bekerja sampai jam 12 malam (rata-rata) dan bahkan sempat "nginap" di ruang kerja kita di KBRI London.  Bener-bener deh, capenya minta ampun.  Walaupun demikian, pada malam terakhir kira-kira jam 8 malam kita sempat jalan-jalan ke Oxford Street di London cari oleh-oleh. Suhunya kira-kira 0 derajat celcius...ya, bener-bener 'nol' derajat. Dingin banget deh pokoknya...&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/SSxxQfStx5I/AAAAAAAAAC4/bdddaFvvTfA/s1600-h/IMG_7051.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/SSxxQfStx5I/AAAAAAAAAC4/bdddaFvvTfA/s320/IMG_7051.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272713791835850642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ke bandara (untuk menuju Kopenhagen), saya sempat foto-foto juga di depan Big Ben.  Cuma sempat keliling London di hari terakhir doang, itupun cuma sekitar 30 menit dan langsung ke Bandara Heathrow untuk menaiki Scandinavian Air menuju ke Kopenhagen, tempat dimana pertama kalinya saya merasakan dan melihat hujan salju....tunggu aja ceritanya di Kopenhagen ya....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-2900276352165718062?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/2900276352165718062/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=2900276352165718062' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/2900276352165718062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/2900276352165718062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/11/tugas-ke-eropa-i-london.html' title='Tugas ke Eropa I : London'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/SSxwwrap-XI/AAAAAAAAACw/imAdpGiSU4U/s72-c/IMG_7013.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-3319401654635632027</id><published>2008-11-03T15:21:00.000+07:00</published><updated>2008-11-03T15:26:02.611+07:00</updated><title type='text'>Artikel: Penilaian (Valuation) vs Perkiraan (Guesstimate)</title><content type='html'>PENILAIAN (Valuation) vs PERKIRAAN (Guesstimate)&lt;br /&gt;Oleh : Muhamad Nahdi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He’ll be out between four and eight weeks…but six weeks would be a good guesstimate” (David Mulder, quoted from The X-Files)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, di suasana kantor yang masih belum bersemangat, terdengar dering bunyi HP milik Bos Roh.&lt;br /&gt;Bos Roh  : “Halo Bos Bas..! Gimana kabar nih?”&lt;br /&gt;Bos Bas   : “Halo juga, alhamdulillah baek…mau nanya nih Bos Roh”&lt;br /&gt;Bos Roh   : “Iya, nanya apaan?”&lt;br /&gt;Bos Bas   : “Gini, saya lagi dapat tugas menilai nih”&lt;br /&gt;Bos Roh   : “terus?”&lt;br /&gt;Bos Bas  : “data pembandingnya dapat di pinggir jalan, sementara objek penilaiannya agak masuk ke dalam…yah, sekitar 1 km-an lah”&lt;br /&gt;Bos Roh   : “terus?”&lt;br /&gt;Bos Bas   : “nah, saya bingung nih mau adjustment-nya”&lt;br /&gt;Bos Roh   : “lah, bingung gimana?”&lt;br /&gt;Bos Bas  : “maksudnya mau berapa persen turunnya kalau di-adjust? Ada yang bilang 20%, tapi penilai lain bilang 7 %...yang bener yang mana bos?”&lt;br /&gt;Bos Roh  : “Yah, Bos Bas….gitu aja kok repot…make ‘feeling’ dong. Kira-kira menurut ente pasnya berapa gitu…”&lt;br /&gt;Bos Bas   :  “gak bisa gitu dong Bos Roh, musti ada dasarnya !”&lt;br /&gt;Bos Roh   : “Masa gak bisa sih, Bos Bas kan udah hafal daerah itu…pake insting aja deh…lagian disitulah letak independennya seorang Penilai…”&lt;br /&gt;Bos Bas   : “Ya gak bisa lah, emangnya Penilaian itu ilmunya Mama Lauren….independensi dari mana Bos? Yang ada juga malah bias kemana-mana….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*   *    *    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ilustrasi tersebut diatas, dapat diambil beberapa pelajaran terkait dengan Penilaian.  Pertama,  Penilaian itu ternyata bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilaksanakan.  Banyak unsur subyektifitas dari Penilai yang dapat mempengaruhi sehingga bukan tidak mungkin opini nilai yang dikeluarkan oleh Penilai menjadi bias.  Kedua, Penilaian adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang empiris.  Oleh karenanya, sebagai syarat dari suatu ilmu pengetahuan, Ilmu Penilaian harus memiliki teori dan metode ilmiah yang dapat dibuktikan kebenarannya secara empiris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari pemikiran inilah, Penulis tergelitik untuk membahas lebih jauh mengenai Penilaian (valuation) dan Perkiraan (guesstimate).  Sebenarnya Penulis belum menemukan istilah dalam Bahasa Indonesia yang tepat untuk pengganti kata “Guesstimate”, namun untuk mempermudah pemahaman maka Penulis menggunakan istilah “Perkiraan” sebagai pengganti istilah “Guesstimate” dengan pertimbangan untuk membedakan dengan istilah “Prakiraan” dan “Peramalan”. Beberapa pertanyaan yang hendak coba dijawab dalam tulisan ini adalah: Benarkah terdapat perbedaan yang signifikan dan mendasar diantara keduanya? Bagaimana caranya agar penilaian yang dilakukan oleh Penilai tidak jatuh ke dalam kategori “guesstimate”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*   *   *   *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai langkah awal, Penulis akan uraikan terlebih dahulu definisi penilaian dan perkiraan menurut referensi.  Menurut kamus Merriam-Webster Online (www.merriam-webster.com) , pengertian penilaian (valuation) adalah:&lt;br /&gt; “the estimated or determined market value of a thing”( perkiraan nilai pasar dari sesuatu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pengertian perkiraan (guesstimate) menurut kamus yang sama adalah &lt;br /&gt;“an estimate usually made without adequate information” (estimasi yang biasanya dibuat tidak berdasarkan informasi yang cukup).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari definisi yang lain (www.harrodsestates.com) ditemukan bahwa Penilaian adalah: &lt;br /&gt;“an assessment of a property’s market value carried out by a recognised professional on behalf of a lender and/or the buyer, backed up with comparable evidence from recent sales of similar properties in similar locations.” (perkiraan nilai pasar dari suatu properti yang dilaksanakan oleh profesional yang diakui atas nama peminjam atau pembeli, yang didukung dengan bukti-bukti pembanding yang cukup dari properti sejenis di lokasi yang sejenis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Guesstimate menurut www.wordnet.princeton.edu adalah&lt;br /&gt; “an estimate that combines reasoning with guessing” (Guesstimate adalah perkiraan yang menggabungkan antara nalar dengan menebak-nebak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari definisi-definisi tersebut diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa “Penilaian” harus didukung dengan bukti-bukti data yang cukup (adequate) sehingga dapat dipertanggungjawabkan kewajarannya.  Sementara itu, “Perkiraan” banyak mengandung unsur tebakan dan tidak didukung dengan bukti-bukti data yang cukup sehingga kewajarannya perlu dipertanyakan.  Dengan demikian, pertanyaan mengenai apakah terdapat perbedaan yang signifikan dan mendasar mengenai  Penilaian (Valuation) dan Perkiraan (Guesstimate) sudah terjawab yaitu: Jelas ada !!  Tanpa didukung dengan data-data yang cukup dan metoda yang ilmiah maka suatu Penilaian (Valuation) akan turun derajatnya menjadi sekadar Perkiraan (Guesstimate).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*   *   *   *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya pertanyaan yang harus dijawab bersama adalah: Bagaimana caranya agar penilaian yang dilakukan oleh Penilai tidak jatuh ke dalam kategori “guesstimate”? Syarat yang harus dipenuhi agar penilaian tetap bernilai ilmiah tinggi adalah setiap penilaian harus didukung dengan bukti-bukti data dan perhitungan yang dapat dipertanggungjawabkan kewajarannya secara profesional.  Penilai tidak bisa terus menerus berlindung dibalik isu ‘subjektifitas’ atau ‘independensi’ hanya karena penilaian yang dilakukannya tidak memiliki dasar-dasar perhitungan dan bukti-bukti yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia Penilaian internasional, sudah ada standar penilaian yang dikenal dengan nama International Valuation Standard (IVS).  Di Indonesia sendiri sudah ada Standar Penilaian Indonesia (SPI) yang merupakan pegangan bagi penilai yang akan melakukan penilaian di Indonesia sehingga tetap sesuai dengan metode-metode penilaian yang telah ditetapkan.  Namun, baik IVS maupun SPI hanya mengatur sebatas tatacara ataupun metode penilaiannya dan tidak mengatur lebih lanjut secara teknis mengenai penilaian.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu praktik internasional yang selama ini diadopsi untuk menjaga agar tingkat penilaian tidak jatuh kepada tingkat “guesstimate” adalah dengan membuat model ekonometrika yang didasarkan pada data-data yang berhasil dikumpulkan oleh Penilai.  Adapun model penilaian yang boleh digunakan oleh Penilai hanyalah model penilaian yang sudah teruji dan secara ekonometrika terbukti modelnya valid dan dapat digunakan.  Tanpa didukung dengan adanya model penilaian, seringkali Penilai di dunia internasional tidak berani mengeluarkan opini nilai karena model penilaian merupakan representasi dari kondisi pasar.  Sebagai bukti, dapat Penulis kutipkan pendapat Marcia Bowden dari Australian Property Institute yang mengemuka dalam Kongres Penilai Real Estate Pan Pacific ke 24 di Korea tahun 2008, terkait dengan penilaian Bangunan Ramah Lingkungan (Green Building) sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“While there is support for the theories in “valuing green”, the current Australian market factors make the theories hard to prove…As the “green” buildings in Australia are only a few years old the issue of tenant retention is yet to come to the fore – it is likely to be some 5 plus years before this theory will be tested.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, Marcia Bowden hingga saat ini belum bisa menilai dan membuktikan apakah bangunan ramah lingkungan memiliki nilai yang lebih tinggi daripada bangunan konvensional karena belum ada data yang cukup untuk membuat model penilaian dan melakukan penelitian terkait dengan bangunan ramah lingkungan.  Praktik seperti ini sudah menjadi hal yang sangat dianjurkan dalam melakukan penilaian di dunia internasional.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang bisa dilakukan untuk menjaga agar Penilaian tetap dapat dipertanggungjawabkan kewajarannya adalah dengan melakukan standardisasi dalam hal penyesuaian  nilai tanah.  Hal ini sangat dibutuhkan untuk mengurangi terjadinya “guesstimate” yang dapat menimbulkan bias terhadap opini nilai yang dikeluarkan oleh seorang Penilai, seperti halnya yang terjadi dalam percakapan singkat di prolog tulisan ini.  Sebagai contoh: dapat dibuatkan tabel penyesuaian yang diakibatkan oleh perbedaan lokasi objek penilaian dan objek pembanding dilihat dari jaraknya dengan jalan raya sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                               Objek Penilaian dari Jalan Raya&lt;br /&gt;Objek Pembanding                  0 – 500 m     &gt;500 – 1000 m      &gt;1000 m&lt;br /&gt;dari jalan raya&lt;br /&gt;0 – 500 m dari jalan raya 0 s.d. - 5 % -5 s.d. -10 % -10 s.d. -15%&lt;br /&gt;500 – 1000 m dari jalan raya 0 s.d. + 5% 0 s.d. - 5 % -5 s.d. -10 %&lt;br /&gt;&gt; 1000 m dari jalan raya + 5% s.d. +10% 0 s.d. +5% 0 s.d. - 5 %&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya tabel penyesuaian seperti di atas maka bias-bias yang diakibatkan oleh penerapan angka penyesuaian yang berlebihan dapat dihindari.  Selain itu, independensi dan judgment Penilai tetap diperhatikan dengan memberikan batasan (range) penyesuaian sehingga Penilai tetap memiliki kebebasan untuk menentukan angka penyesuaian yang paling tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa menentukan tingkat penyesuaian dalam tabel tersebut diperlukan penelitian dan database penilaian yang baik sehingga validitas tabel tersebut dapat diuji secara ilmiah.  Contoh tabel penyesuaian di atas juga harus disesuaikan dengan daerah masing-masing sehingga untuk tiap-tiap kota memiliki angka penyesuaian yang mungkin berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*   *   *   *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan penilaian di Indonesia? Penulis belum melakukan penelitian lebih lanjut mengenai apakah penilai di Indonesia menggunakan model penilaian atau tidak dalam melakukan penilaiannya.  Namun, berdasarkan pengamatan penulis yang sangat terbatas, untuk lingkup DJKN hingga saat ini belum ada penilaian yang menggunakan model ekonometrika dalam penilaian properti.  Demikian pula mengenai tabel penyesuaian nilai tanah yang hingga saat ini di DJKN masih belum terwujud.  Hal ini, menurut hemat Penulis, lebih disebabkan oleh belum adanya database penilaian sebagai bahan dasar untuk melakukan penelitian sekaligus membuat model penilaian dan tabel penyesuaian dimaksud.  Untuk itu, database penilaian harus diwujudkan terlebih dahulu apabila penilaian di DJKN tidak ingin sekadar disebut sebagai “guesstimate” alias tebak-tebakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;========= OOO ==========&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bowden, Marcia. 2008. “Green Buildings”. The 24th Pan Pacific Congress of Real Estate Appraisers, Valuers and Counselors.&lt;br /&gt;http:// www.merriam-webster.com&lt;br /&gt;http:// www.harrodsestates.com&lt;br /&gt;http:// www.wordnet.princeton.edu&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;By Muhamad Nahdi&lt;br /&gt;October 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-3319401654635632027?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/3319401654635632027/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=3319401654635632027' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/3319401654635632027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/3319401654635632027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/11/artikel-penilaian-valuation-vs.html' title='Artikel: Penilaian (Valuation) vs Perkiraan (Guesstimate)'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-8704818358287502932</id><published>2008-10-13T14:25:00.002+07:00</published><updated>2008-10-13T14:49:42.776+07:00</updated><title type='text'>Selamat Lebaran 1429 H</title><content type='html'>Meskipun sudah terlambat, tapi saya ingin mengucapkan selamat merayakan Idul Fitri 1429 H bagi yang merayakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga saya sendiri di tahun ini tidak 'mudik' ke Cirebon dengan pertimbangan utama ketiga anak saya yang masih kecil-kecil (6 th, 2.5 th, dan 1 th) sehingga kalau diajak mudik ke Cirebon dikhawatirkan kondisi fisik mereka masih belum kuat.  Apalagi, di musim pancaroba seperti ini.   Dan ternyata terbukti dua hari setelah lebaran kemaren itu kita semua pada sakit flu dan pilek berat, termasuk saya dan istri.  Jadi, nggak ke Cirebon aja kita udah pada 'tumbang'....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah klasik lain yang selalu ada setiap tahun udah pasti masalah ketersediaan kendaraan.  Sampai saat ini kan kita belum ada mobil sendiri jadi kalau ada keperluan harus nyewa mobil.  Nah, tahu sendiri kan kalo nyewa mobil untuk lebaran itu biasanya per paket minimal 5 hari...padahal kondisi keuangan kita pas-pasan lah kalau harus nyewa sampai 5 hari.  Biasanya kita nyewa mobil paling lama 1 X 24 jam aja he he...untuk keperluan jalan-jalan...Ya, doain aja deh mudah-mudahan akhir tahun ini kita udah punya mobil sendiri walaupun kalau digas bunyinya "kridit...kridit...kridit...", abis gimana yah...kayanya mobil nih untuk kita yang 'buntut'nya udah tiga jadi kebutuhan primer kalii...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Allah Swt meridhoi, akhir November ini saya akan membawa cerita menarik untuk temen-temen ya....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-8704818358287502932?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/8704818358287502932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=8704818358287502932' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/8704818358287502932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/8704818358287502932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/10/selamat-lebaran-1429-h.html' title='Selamat Lebaran 1429 H'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-606209445152616812</id><published>2008-08-08T08:26:00.003+07:00</published><updated>2008-08-08T08:43:00.381+07:00</updated><title type='text'>08-08-08</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/SJukdctaRII/AAAAAAAAABk/Q3vYgL8Byag/s1600-h/08-08-08-080619x.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/SJukdctaRII/AAAAAAAAABk/Q3vYgL8Byag/s400/08-08-08-080619x.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231956217950782594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari ini merupakan hari dengan tanggal yang unik yaitu: 08-08-08.  Tanggal seperti ini hanya akan terulang 1000 tahun lagi yaitu tepatnya tanggal 08-08-3008....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong tentang tanggal yang serba 8 ini, tadi pagi ada suatu kebetulan yang menyenangkan juga lho.  Nggak biasanya saya merhatiin tiket KRL Depok Ekspres yang biasa saya naiki tiap pagi ke kantor, hari ini saya bener-bener iseng aja merhatiin tuh tiket....eh, ternyata nomor seri tiketnya bener-bener berbau angka 8 lho : &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;AA6488&lt;/span&gt; !! Bukankah 8 dikali 8 adalah 64...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nih foto tiketnya...Ada-ada aja yah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-606209445152616812?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/606209445152616812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=606209445152616812' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/606209445152616812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/606209445152616812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/08/08-08-08.html' title='08-08-08'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/SJukdctaRII/AAAAAAAAABk/Q3vYgL8Byag/s72-c/08-08-08-080619x.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-2406371978813747380</id><published>2008-07-28T13:58:00.003+07:00</published><updated>2008-07-28T14:19:03.036+07:00</updated><title type='text'>Neyra Masuk SD euy</title><content type='html'>Nggak terasa, Neyra udah masuk SD tahun ini.  Ney diterima di SDPN Sabang, Bandung. Pada awalnya saya dan Yuli sempet khawatir juga kalau Ney nggak keterima di Sabang karena kita nggak ngedaftarin Ney ke SD yang lain.  Pertimbangannya adalah SD Negeri yang paling dekat dan bagus dengan rumah kita di Antapani ya SD Sabang ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang sempat membuat kita khawatir apakah Ney bisa adaptasi atau tidak setelah dia masuk SD adalah mengenai JAM BANGUN TIDUR....Selama ini Ney selalu bangun kira-kira jam 7 pagi, padahal jemputan untuk SD udah stand by jam 6.30 pagi.  Ternyata, semenjak masuk SD Ney bisa bangun jam 5.30 pagi....plong dah !! Senjatanya untuk Ney adalah disetelin TV.  Senjata yang ampuh tapi sebenarnya saya pribadi kurang 'pas' karena kita udah tahu-lah yang namanya pengaruh TV buat anak.  Mudah-mudahan ke depannya bisa ada 'senjata' lain....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada lagi satu kekhawatiran nih. Mengenai pola belajar, karena mulai SD kan udah mulai banyak PR....SD di Indonesia gitu lho...Mudah-mudahan aja Ney bisa beradaptasi mengenai pola belajar ini.  Tapi, saya sih yakin bisa berubah.  Yuli kan 'galak' ke Ney kalo udah masalah belajar.. he he...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-2406371978813747380?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/2406371978813747380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=2406371978813747380' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/2406371978813747380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/2406371978813747380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/07/neyra-masuk-sd-euy.html' title='Neyra Masuk SD euy'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-3882066828116665921</id><published>2008-07-16T12:04:00.000+07:00</published><updated>2008-07-16T12:09:16.634+07:00</updated><title type='text'>Artikel: Dualisme Penanganan Investasi Pemerintah oleh Departemen Keuangan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;DUALISME PENANGANAN “INVESTASI PEMERINTAH” / “PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH” OLEH DEPARTEMEN KEUANGAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;Oleh: Muhamad Nahdi&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Latar Belakang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Berdasarkan Undang-Undang nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, disebutkan bahwa Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara memiliki kewenangan untuk menempatkan uang negara dan mengelola/menatausahakan investasi (pasal 7 ayat (2) huruf h).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal ini kemudian dipaparkan lebih lanjut di dalam batang tubuh UU tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Pasal 41 ayat (2) UU nomor 1 tahun 2004 menyatakan bahwa bentuk investasi pemerintah dapat berupa saham, surat utang, dan investasi langsung yang untuk selanjutnya diatur dengan peraturan pemerintah. Sementara itu, dalam pasal 41 ayat (4) UU nomor 1 tahun 2004 tersebut disebutkan juga istilah “Penyertaan Modal Pemerintah Pusat” yang bisa dilakukan kepada perusahaan negara/daerah/swasta untuk diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jika dicermati lebih dalam maka menurut hemat Penulis pasal ini merupakan salah satu pasal yang ambigu karena bisa menimbulkan perbedaan penafsiran.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal ini timbul karena tidak ada definisi yang jelas dalam UU ini tentang “Investasi pemerintah” dan “Penyertaan Modal Pemerintah Pusat”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bukankah “penyertaan modal” adalah salah satu bentuk “investasi pemerintah”?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Meskipun terdapat ambiguitas seperti tersebut di atas, pemerintah Indonesia menerbitkan 2 peraturan pemerintah sebagai pelaksanaan dari UU ini, yaitu:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara / Daerah sebagai pelaksanaan amanat pasal 41 ayat (4) dan pasal 49 ayat (6) UU Nomor 1 tahun 2004; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2007 tentang Investasi Pemerintah yang kemudian diganti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 1 tahun 2008 sebagai pelaksanaan amanat pasal 41 ayat (3) UU Nomor 1 tahun 2004. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Dalam PP nomor 6 tahun 2006 definisi dari “Penyertaan Modal Pemerintah Pusat/Daerah” adalah sebagai berikut (pasal 1 angka 19):&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;“Penyertaan Modal Pemerintah pusat/daerah adalah pengalihan kepemilikan barang milik negara/daerah yang semula merupakan kekayaan yang tidak dipisahkan menjadi kekayaan yang dipisahkan untuk diperhitungkan sebagai modal/saham negara atau daerah pada badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, atau badan hukum lainnya yang dimiliki negara”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Sementara itu, definisi dari “Penyertaan Modal” tidak muncul dalam PP nomor 8 tahun 2007 dan baru terlihat dalam PP nomor 1 tahun 2008 sebagai berikut (pasal 1 angka 4):&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;“Penyertaan Modal adalah bentuk Investasi Pemerintah pada Badan Usaha dengan mendapat hak kepemilikan, termasuk pendirian Perseroan Terbatas dan/atau pengambilalihan Perseroan Terbatas”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Adapun definisi dari “Investasi Pemerintah” terlihat dalam PP nomor 1 tahun 2008 adalah sebagai berikut (pasal 1 angka 1):&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;“Investasi pemerintah adalah penempatan sejumlah dana dan/atau barang oleh pemerintah pusat dalam jangka panjang untuk investasi pembelian surat berharga dan investasi langsung untuk memperoleh manfaat ekonomi, sosial, dan/atau manfaat lainnya”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Dari ketiga definisi tersebut tampaklah titik persinggungan yang cukup nyata yaitu secara substantif ketiganya menyatakan bahwa ada peralihan baik dana ataupun barang milik negara dari pemerintah pusat kepada pihak lain sehingga pemerintah memiliki saham/modal di pihak lain tersebut. Titik persinggungan inilah yang akan penulis bahas dalam tulisan ini karena persinggungan ini terus berlanjut sampai kepada level operasional sehingga di dalam Departemen Keuangan terdapat dua unit / instansi yang memiliki tugas pokok dan fungsi yang serupa terkait dengan “Investasi Pemerintah“ dan “Penyertaan Modal Pemerintah Pusat”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pertama-tama penulis akan menggambarkan mekanisme pelaksanaan kewenangan Menteri Keuangan terkait dengan “Penyertaan Modal Pemerintah Pusat” sesuai dengan PP nomor 6 tahun 2006, kemudian akan dipaparkan mengenai mekanisme pelaksanaan kewenangan Menteri Keuangan terkait dengan “Investasi Pemerintah” sesuai dengan PP nomor 1 tahun 2008, dan baru akan penulis bahas lebih lanjut masalah yang timbul dan alternatif solusi yang bisa dilaksanakan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;Mekanisme Dalam PP Nomor 6 tahun 2006 tentang “Penyertaan Modal Pemerintah Pusat”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Dalam batang tubuh PP Nomor 6 tahun 2006, ketentuan mengenai pelaksanaan “Penyertaan Modal Pemerintah Pusat” diatur dalam pasal 62 – 66.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal ini akan penulis gambarkan dalam matriks sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; margin-left: 9.9pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 18.85pt;"&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm 5.4pt; width: 64.15pt; height: 18.85pt;" width="86"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: black black black -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 358.85pt; height: 18.85pt;" width="478"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;PP NOMOR 6 TAHUN 2006&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: black black black -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 40.5pt; height: 18.85pt;" width="54"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;PASAL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color black black; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 64.15pt;" valign="top" width="86"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;Tujuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 358.85pt;" valign="top" width="478"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dalam rangka pendirian,   pengembangan, dan peningkatan kinerja BUMN/D atau badan hukum lainnya yang   dimiliki negara/daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=""&gt;Keterangan   :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Hal ini secara tidak langsung serupa   dengan tujuan dari “Investasi Pemerintah” yaitu untuk mendapatkan manfaat   ekonomi, sosial, maupun manfaat lainnya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 40.5pt;" valign="top" width="54"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;62&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color black black; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 64.15pt;" valign="top" width="86"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;Pelaksana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 358.85pt;" valign="top" width="478"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Pengelola   Barang untuk Barang Milik Negara.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;Keterangan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Dalam   PP ini, yang dimaksud dengan Pengelola Barang adalah Menteri Keuangan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Instansi di bawah Menteri Keuangan yang   melaksanakan PP Nomor 6 tahun 2006 adalah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara   (DJKN).&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 40.5pt;" valign="top" width="54"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;63&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color black black; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 64.15pt;" valign="top" width="86"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;Mekanisme Umum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 358.85pt;" valign="top" width="478"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Pengelola   Barang melakukan penelitian dan pengkajian mengenai perlunya “Penyertaan   Modal Pemerintah Pusat”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setelah itu,   Pengelola Barang menyiapkan Rancangan Peraturan Pemerintah terkait Penyertaan   Modal Pemerintah tersebut.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;Keterangan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Unit   di dalam DJKN yang melaksanakan ini adalah Direktorat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Barang Milik Negara II dan Direktorat   Penilaian Kekayaan Negara cq. Sub Direktorat Penilaian Usaha.&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 40.5pt;" valign="top" width="54"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;64&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Matriks di atas menggambarkan dengan jelas bahwa Menteri Keuangan cq DJKN merupakan pelaksana dari “Penyertaan Modal Pemerintah Pusat” sesuai dengan PP nomor 6 tahun 2006.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saat ini organisasi dan Tata Kerja DJKN diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor: 131/PMK.01/2006 tanggal 22 Desember 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;Mekanisme Dalam PP Nomor 1 tahun 2008 tentang “Investasi Pemerintah”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Dalam batang tubuh PP Nomor 1 tahun 2008, ketentuan mengenai pelaksanaan “Investasi Pemerintah” diatur dalam beberapa pasal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal ini akan penulis gambarkan dalam matriks sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; width: 477pt; margin-left: 9.9pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="636"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 18.85pt;"&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm 5.4pt; width: 64.15pt; height: 18.85pt;" width="86"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: black black black -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 358.85pt; height: 18.85pt;" width="478"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;PP NOMOR 1 TAHUN 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: black black black -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt; height: 18.85pt;" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;PASAL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color black black; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 64.15pt;" valign="top" width="86"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;Maksud&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 358.85pt;" valign="top" width="478"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Memperoleh manfaat ekonomi, sosial,   dan/atau manfaat lainnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;2 ayat (1)&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color black black; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 64.15pt;" valign="top" width="86"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;Tujuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 358.85pt;" valign="top" width="478"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Untuk meningkatkan pertumbuhan   ekonomi dalam rangka memajukan kesejahteraan umum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;2 ayat (2)&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color black black; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 64.15pt;" valign="top" width="86"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;Pelaksana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 358.85pt;" valign="top" width="478"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Menteri   Keuangan selaku Bendahara Umum Negara cq Badan Investasi Pemerintah&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;Keterangan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;BIP   merupakan Badan Layanan Umum yang secara teknis dibina oleh Direktorat   Jenderal Perbendaharaan (DJPb), Departemen Keuangan dan secara administratif   dibina oleh Sekjen Departemen Keuangan.&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;10&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;3 ayat (4)&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;12 &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color black black; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 64.15pt;" valign="top" width="86"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;Mekanisme Umum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 358.85pt;" valign="top" width="478"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Menteri   Keuangan melakukan perencanaan, pelaksanaan investasi, penatausahaan dan   pertanggungjawaban investasi, pengawasan, dan divestasi.&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;9&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Matriks di atas menyatakan dengan jelas bahwa Menteri Keuangan cq BIP merupakan pelaksana dari “Investasi Pemerintah” sesuai dengan PP nomor 1 tahun 2008.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saat ini BIP sudah diwujudkan dengan PMK nomor : 52/PMK.01/2007 tanggal 16 Mei 2007 tentang Pusat Investasi Pemerintah. Sebagai pelengkap, dalam pasal 3 ayat (3) huruf a. dari PP nomor 1 tahun 2008 jelas disebutkan bahwa salah satu bentuk Investasi Langsung pemerintah adalah “Penyertaan Modal”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;Persinggungan Level Operasional&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Dari kedua matriks tersebut di atas, tampak nyata telah terjadi persinggungan (kalau tidak mau disebut “tabrakan”) pada level operasional dalam hal “Penyertaan Modal Pemerintah Pusat”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;PP nomor 6 tahun 2006 sebagai “kakak” telah dimentahkan secara telak oleh PP nomor 1 tahun 2008 dalam hal yang terkait dengan “Penyertaan Modal Pemerintah”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dalam hal ini, tugas pokok dan fungsi DJKN cq Direktorat BMN II – Direktorat Penilaian Kekayaan Negara (Subdit Penilaian Usaha) yang nota bene “lahir” terlebih dahulu secara langsung telah diambil alih oleh Badan Investasi Pemerintah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pertanyaan yang terbersit sudah pasti adalah: &lt;i style=""&gt;Unit / instansi mana di dalam Departemen Keuangan yang sebenarnya berwenang menangani “Investasi Pemerintah” atau “Penyertaan Modal Pemerintah”&lt;/i&gt;? Pertanyaan ini sangat perlu untuk dijawab guna menghindari adanya dualisme pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang sama di dalam Departemen Keuangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas, ada satu alat yang bisa digunakan sebagai parameter untuk mengukur dan menilai instansi mana di dalam Departemen Keuangan yang sebenarnya lebih berhak dalam mengurusi masalah “Penyertaan Modal Pemerintah” dan “Investasi Pemerintah”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Alat itu adalah Keputusan Menteri Keuangan (KMK) nomor 464/KMK.01/2005 tanggal 29 September 2005 tentang Pedoman Strategi dan Kebijakan Departemen Keuangan (&lt;i style=""&gt;Road Map&lt;/i&gt; Departemen Keuangan) Tahun 2005 – 2009.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sesuai dengan namanya, &lt;i style=""&gt;Road Map&lt;/i&gt; berarti peta yang menggambarkan arah perjalanan organisasi Departemen Keuangan lengkap dengan tujuan, sasaran, strategi, kebijakan dan unit pelaksana-nya masing-masing selama 5 tahun ke depan sehingga perjalanan menjadi terarah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Dalam halaman 19 Lampiran II KMK tersebut (Matriks Strategi Road Map Departemen Keuangan Tahun 2005 – 2009) jelas nampak bahwa masalah-masalah yang berkaitan dengan “Investasi Pemerintah” dengan sasaran : “&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;terselenggaranya pengelolaan investasi pemerintah yang tertib, efektif, dan efisien dalam rangka pencapaian tujuan investasi pemerintah (tujuan ekonomis, sosial, dan tujuan lainnya)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;” berada di bidang IV tentang Kekayaan Negara dengan unit pelaksana yang pada mulanya berada di bawah kendali DJPb dialihkan kepada DJKN.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal ini terlihat dari kolom “Unit Pelaksana” yang menggambarkan adanya arah panah dari DJPb ke DJKN. Berdasarkan &lt;i style=""&gt;Road Map&lt;/i&gt; inilah beberapa unit di dalam DJKN dibentuk untuk diberikan tugas yang terkait dengan “Investasi Pemerintah” ataupun “Penyertaan Modal Pemerintah”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jadi, sesuai dengan &lt;i style=""&gt;Road Map&lt;/i&gt; Departemen Keuangan sudah jelas bahwa DJKN-lah yang berwenang untuk menangani “Investasi Pemerintah” atau “Penyertaan Modal Pemerintah”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;Alternatif Solusi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Ibarat pepatah “nasi sudah jadi bubur”, maka dualisme penanganan “Investasi Pemerintah” atau “Penyertaan Modal Pemerintah” sudah terlanjur terjadi di dalam Departemen Keuangan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Untuk itu perlu dicarikan solusi yang benar-benar tepat dan bijak sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Berikut ini beberapa alternatif solusi yang bisa ditempuh untuk memecahkan masalah dualisme ini:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sesuai dengan &lt;i style=""&gt;Road Map&lt;/i&gt; Departemen Keuangan, maka pembinaan teknis terhadap Badan Investasi Pemerintah dialihkan dari DJPb ke DJKN.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal ini berarti segala perangkat yang terkait seperti “Komite Investasi Pemerintah” juga beralih dari DJPb ke DJKN.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selain itu, unit-unit di dalam DJKN yang terkait dengan “Investasi Pemerintah” atau “Penyertaan Modal Pemerintah” sebaiknya dileburkan ke dalam BIP.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Keuntungan dari solusi ini adalah BIP yang sekarang ini sudah terlanjur terbentuk tidak perlu dibubarkan dan tetap berbentuk Badan Layanan Umum (BLU) sesuai dengan PMK nomor 52/PMK.01/2007 tanggal 16 Mei 2007.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Untuk itu, PMK tersebut perlu disesuaikan khususnya untuk pasal 1 ayat (1) yang secara eksplisit menyebutkan bahwa : “&lt;i style=""&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.2pt;"&gt;Pusat &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Investasi &lt;span style="letter-spacing: 0.05pt;"&gt;Pemerintah &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.25pt;"&gt;berada &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.45pt;"&gt;di &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.5pt;"&gt;bawah &lt;/span&gt;dan&lt;span style="letter-spacing: -0.15pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.25pt;"&gt;bertanggung &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.45pt;"&gt;jawab &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.4pt;"&gt;kepada &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.05pt;"&gt;Menteri &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.15pt;"&gt;Keuangan &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.55pt;"&gt;yang &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.15pt;"&gt;pembinaan &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.1pt;"&gt;teknis &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.4pt;"&gt;dilakukan &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.1pt;"&gt;oleh &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;"&gt;Direktur &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.05pt;"&gt;Jenderal &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.1pt;"&gt;Perbendaharaan dan pembinaan administratif dilakukan oleh Sekretaris Jendera&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.1pt;"&gt;l&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.1pt;"&gt;”.&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;BIP tetap berada di bawah pembinaan teknis DJPb, namun unit-unit di dalam DJKN yang sudah terlanjur terbentuk guna menangani “Investasi Pemerintah” atau “Penyertaan Modal Pemerintah” agar dilebur ke dalam BIP sehingga peran DJKN dalam hal “Penyertaan Modal Pemerintah” dihilangkan sepenuhnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Keuntungan dari solusi ini adalah, seperti halnya alternatif solusi yang pertama, yaitu tidak perlu dibubarkannya BIP dan unit-unit di dalam DJKN dapat ditampung di tempat yang baru (BIP).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun, untuk menempuh solusi ini perlu dilakukan perbaikan / ralat atas beberapa peraturan tentang organisasi Departemen Keuangan seperti PMK yang mengatur tentang Road Map Departemen Keuangan, Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan, dll.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pembubaran BIP dan meleburkannya ke dalam DJKN.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Untuk bisa melaksanakan alternatif solusi ini adalah hal yang tidak mudah karena hal ini berarti mementahkan PP nomor 1 tahun 2008 dan PMK tentang BIP.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selain itu, kemungkinan besar DJKN tidak akan bisa menampung semua pegawai dari BIP yang saat ini sudah terlanjur melakukan rekrutmen sampai tingkat pelaksana.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pembubaran unit-unit di dalam DJKN yang terkait dalam penanganan “Investasi Pemerintah” atau “Penyertaan Modal Pemerintah” sehingga hanya DJPb saja yang berwenang untuk menangani masalah ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun, melakukan hal ini sama halnya dengan “menelan ludah sendiri” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;karena bertentangan dengan &lt;i style=""&gt;Road Map&lt;/i&gt; Departemen Keuangan yang sudah dicanangkan sendiri sejak awal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selain dari diperlukannya perbaikan / ralat terhadap beberapa peraturan terkait seperti Road Map Departemen Keuangan dan organisasi Departemen Keuangan, hal ini juga sudah pasti akan mengorbankan pegawai-pegawai di dalam DJKN yang memang sudah disiapkan untuk menangani hal ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;Simpulan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Berdasarkan hasil pemaparan Penulis tersebut di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Saat ini telah terjadi dualisme penanganan “Investasi Pemerintah” atau “Penyertaan Modal Pemerintah” di dalam Departemen Keuangan yaitu oleh DJKN dan DJPb cq BIP.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sesuai dengan &lt;i style=""&gt;Road Map&lt;/i&gt; Departemen Keuangan 2005 - 2009, unit / instansi yang sebenarnya berwenang untuk menangani “Investasi Pemerintah” atau “Penyertaan Modal Pemerintah” di dalam Departemen Keuangan adalah DJKN.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Untuk menghindari dualisme yang berkepanjangan perlu segera dicarikan solusi yang tepat dan bijak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dari beberapa alternatif solusi yang Penulis tawarkan dalam tulisan ini, alternatif pertama dan kedua merupakan alternatif solusi yang menurut hemat Penulis paling memungkinkan (&lt;i style=""&gt;feasible&lt;/i&gt;) untuk dilaksanakan mengingat optimalnya keuntungan dan minimalnya risiko.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Peran Pusat Harmonisasi Kebijakan (Pushaka) Departemen Keuangan perlu dimaksimalkan agar hal semacam ini tidak terulang di masa yang akan datang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;======== OO ========&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Referensi :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara / Daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2007 yang diganti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2008 tentang Investasi Pemerintah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Peraturan Menteri Keuangan Nomor 464/KMK.01/2005 tentang Pedoman Strategi dan Kebijakan Departemen Keuangan (&lt;i style=""&gt;Road Map&lt;/i&gt; Departemen Keuangan) Tahun 2005 – 2009.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Peraturan Menteri Keuangan Nomor 131/PMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Peraturan Menteri Keuangan Nomor 52/PMK.01/2007 tentang Pusat Investasi Pemerintah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;Jakarta, 25 Maret 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family: Forte;"&gt;By Muhamad Nahdi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-3882066828116665921?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/3882066828116665921/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=3882066828116665921' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/3882066828116665921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/3882066828116665921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/07/artikel-dualisme-penanganan-investasi.html' title='Artikel: Dualisme Penanganan Investasi Pemerintah oleh Departemen Keuangan'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-3526430923181572183</id><published>2008-06-25T13:46:00.003+07:00</published><updated>2008-06-25T14:29:05.041+07:00</updated><title type='text'>June: A Busy Month</title><content type='html'>Yap, bulan Juni ini benar-benar bulan yang melelahkan buat saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 2 - 5 Juni saya dinas ke Tarakan di Kalimantan Timur.  Belum hilang lelah dari Tarakan, minggu berikutnya mulai tanggal 10 - 14 Juni dinas lagi ke puncak dalam rangka konsinyering. Selanjutnya mulai tanggal 17 - 20 Juni jalan lagi ke Jawa Timur (Surabaya, Gresik, Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro).  Jadwal yang padat ini membuat kondisi fisik saya agak kurang fit karena pada akhir Mei sebetulnya saya juga baru pulang dari Samarinda, Kalimantan Timur.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, saya merasa bersyukur karena bisa singgah di tempat-tempat yang sebelumnya belum pernah saya kunjungi.  Pengalaman ini tentu merupakan pengalaman yang sangat berharga buat saya.  Saya jadi bisa bercerita kepada keluarga terutama Neyra, Aisyah dan Irsyad tentang Tarakan, Samarinda, dan sebagian Jawa Timur.  Kalau kondisi fisik sudah pulih, boleh juga nih dinas ke tempat lain yang belum pernah saya datangi....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-3526430923181572183?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/3526430923181572183/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=3526430923181572183' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/3526430923181572183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/3526430923181572183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/06/june-busy-month.html' title='June: A Busy Month'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-3220667765084212798</id><published>2008-04-02T12:04:00.000+07:00</published><updated>2008-04-02T12:05:37.044+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;“ROKER” (bukan ‘&lt;i style=""&gt;Rocker&lt;/i&gt;’): &lt;i style=""&gt;Suka Duka Penumpang KRL&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Salah satu alat transportasi favorit bagi penduduk di daerah Depok dan sekitarnya yang bekerja di Jakarta adalah kereta listrik (KRL) karena cepat sampai kantor dan tidak kenal macet (kalo mogok sih pernah juga…).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Salah satu julukan bagi para komuter ini di kantor saya adalah “Roker” alias “Rombongan Kereta”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saya adalah salah seorang anggota “Roker” ini. Kalau pagi saya naik dari Stasiun Pondok Cina (Pocin) , Depok.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;KRL yang saya naiki untuk pagi adalah KRL Bojonggede Ekspres yang berhenti di Pocin dengan jadwal keberangkatan pukul 06.18 pagi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sedangkan untuk sore harinya, saya naik KRL Depok Ekspres dari Stasiun Juanda yang juga berhenti di Pocin dengan jadwal keberangkatan pukul 17.18.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bicara soal ketepatan jadwal KRL yang biasa saya naiki, untuk yang pagi hari 99% tepat waktu sehingga untunglah sampai sekarang belum pernah terlewat yang namanya absen ‘&lt;i style=""&gt;finger print’&lt;/i&gt; pagi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Roker” pagi dari Pocin jumlahnya cukup banyak dan rata-rata pegawai kantoran, dan akhir-akhir ini semakin banyak saja anggota “Roker” dari Pocin karena ketepatan waktunya yang sangat ruarrr biasssaa…walaupun tiketnya sekali jalan cukup mahal (Rp. 9.000)….Soal tempat duduk, jangan ditanya deh…pasti udah nggak dapat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;So, siapkan selembar atau dua lembar koran bekas sebagai ‘lapak’ dan silakan duduk bersila di lantai kereta untuk kemudian zzzz….melanjutkan tidur di dalam kereta yang ‘adem’ karena ber-AC.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bagaimana dengan yang sore hari? Nah, dalam hal ketepatan waktu…KRL Depok Ekspres kebalikannya dari KRL Bojonggede Ekspres, alias 50% terlambat dan 49% terlambat bangettt…Kalau udah gitu, keretanya (walaupun ekspres) tapi penuh juga, dan jangankan duduk di tempat duduk…dapat tempat di lantai untuk masang ‘lapak’ aja seringkali nggak bisa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ya udah deh, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;karena nggak ada pilihan lain yang paling cepat akhirnya dibela-belain berdiri dah…”Roker” yang lain banyak juga yang membawa semacam kursi lipat mini sekadar untuk bisa duduk.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seringkali “Roker” arah Depok merasa iri melihat kosongnya KRL ekspres lainnya dan ngomel-ngomel “&lt;i style=""&gt;Gimana sih PT.KA ini?..Udah tau penumpang arah Depok itu paling banyak, mbok ya ditambah jadwal keretanya dan jadwalnya ditepati….&lt;/i&gt;”.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Berhubung para “Roker” ini tidak punya pilihan lain yang lebih baik, ya terpaksa naik KRL juga walau sambil manyun dan ngedumel sepanjang perjalanan….&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Di kantor saya, untuk menandai seseorang itu anggota “Roker” atau bukan, salah satu caranya adalah dengan melihat siapa saja yang antri di depan mesin absensi pada sore hari lebih kurang 5 menit sebelum jam pulang (17.00).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apalagi alasannya kalau bukan “takut ketinggalan kereta”…begitu jam di mesin absensi bergulir ke angka 17:00, langsung saja para “Roker” dengan sigap memasang jari jemarinya di mesin absensi dan kabur ke stasiun secepatnya…biasanya sih naik ‘ojek’ supaya bisa menghindari macet ke stasiun….Satu lagi keterampilan yang harus dimiliki para “Roker” ini adalah dalam hal memilih mesin absensi karena ada perbedaan kira-kira 1 menit antara satu mesin absensi dengan mesin absensi yang lain…beda yang cuma 1 menit ini bisa menentukan anggota “Roker” ketinggalan kereta atau tidak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Entah karena kereta yang sore hari sudah biasa terlambat, kadang-kadang saya mendengar juga omelan lucu seperti ini “kok malah tepat waktu sih? Seperti biasa aja deh…jadi saya nggak usah buru-buru ke stasiun…”..ha ha…dasar…dikasih tepat waktu ngomel…dikasih terlambat juga ngomel….&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-3220667765084212798?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/3220667765084212798/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=3220667765084212798' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/3220667765084212798'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/3220667765084212798'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/04/roker-bukan-rocker-suka-duka-penumpang.html' title=''/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-6486737545351784427</id><published>2008-02-26T10:40:00.003+07:00</published><updated>2008-02-26T10:46:18.713+07:00</updated><title type='text'>Irsyad, tambah gede aja...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/R8OLc79KKOI/AAAAAAAAABA/ne48vo7G4sI/s1600-h/P2150216.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/R8OLc79KKOI/AAAAAAAAABA/ne48vo7G4sI/s400/P2150216.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171130126398269666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/R8OLBL9KKNI/AAAAAAAAAA4/5jpSB-eDjRE/s1600-h/P8200142x.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/R8OLBL9KKNI/AAAAAAAAAA4/5jpSB-eDjRE/s400/P8200142x.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171129649656899794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mau posting foto-fotonya Irsyad nih.  Alhamdulillah, sekarang udah 6 bulan n sehat wal afiat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-6486737545351784427?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/6486737545351784427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=6486737545351784427' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/6486737545351784427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/6486737545351784427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/02/irsyad-tambah-gede-aja.html' title='Irsyad, tambah gede aja...'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/R8OLc79KKOI/AAAAAAAAABA/ne48vo7G4sI/s72-c/P2150216.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-1178170880992017123</id><published>2008-02-15T07:59:00.003+07:00</published><updated>2008-02-15T08:51:25.655+07:00</updated><title type='text'>Back to Campus</title><content type='html'>After almost 13 years I graduated from the State Accountancy College (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sekolah Tinggi Akuntansi Negara&lt;/span&gt;) in 1995, finally I return to my campus but not as a student.  I have come back to my campus as a lecturer, not a permanent one because only every thursday I go there.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now I know how it feels to be a lecturer, it's not as difficult as I thought but not as easy as well.  You have to be ready to answer all kind of strange and challenging questions from students particularly about current issues on the materials.  I just remember my brother's tip to deal with students, the most important principle is perhaps "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;There is no silly or stupid question from student, every question is valuable&lt;/span&gt;".  By applying that principle, I try to appreciate any question from students.  I think it works well.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furthermore, because I was a student many years ago, I hope I can understand what the students need from a lecturer.  Maybe the most important thing that a student need is intense communication with lecturer so that students have vast opportunity to ask any question about the materials or assignments &lt;span style="font-style: italic;"&gt;anytime&lt;/span&gt;.  Fortunately, these days we have a great way to do that.  It's internet (e-mail or chat) and cell phone.  Therefore, I gave students my e-mail address and cell phone.  I wish they use these media to improve their performance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maybe the most difficult task for a lecturer is to give motivation to students so that they will study the materials before the lecture and they do it voluntarily.  It's still very hard to do that here in Indonesia.  However, I believe that this may occur here if universities have adequate sources such as online journals and databases. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That's all folks. Keep up the good work...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-1178170880992017123?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/1178170880992017123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=1178170880992017123' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/1178170880992017123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/1178170880992017123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/02/back-to-campus.html' title='Back to Campus'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-1508963446315623692</id><published>2008-02-08T13:33:00.000+07:00</published><updated>2008-02-08T13:34:21.188+07:00</updated><title type='text'>Puisi : Bendera Tua (2)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;E k l i p s (Bendera Tua 2)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Matahariku bersinar di siang malang itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Tiba-tiba…muncul setitik bayangan di puncaknya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;, tetanggaku cepat-cepat masuk rumahnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;dan anak kecil yang sedang bermain di jalan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Digendong ibunya masuk…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Aku tak mengerti…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Ekor mataku memandang matahariku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Bayangan itu mulai jelajahi matahariku dengan lembut&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;, mataku berkunang-kunang, sekeliling jadi suram&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Aku semakin tak mengerti…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Di kamarku TV dinyalakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Bayangan itu hampir jajah semuanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Matahariku hilang…lenyap…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Suasana jadi gelap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Dan hanya ada matahari hitam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Aku mati…aku…tolong…!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Gelap masih membayang di luar rumah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Saat aku mengintip lewat jemari lunglaiku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Tapi, kulihat sebuah cincin dengan berlian yang indah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Matahariku mulai bangkit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Di TV, bayangan itu mulai lari tinggalkan matahariku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Aku lari keluar rumah…dan bersorak…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Ya…matahariku terangi bumiku lagi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Ia tersenyum padaku dan berkata:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;“Jangan takut padanya….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Ia hanya lewat tuk guncang dunia…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Lalu ia diam, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;sambil diam-diam menitikkan air matanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Aku mengerti sekarang…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Bandung, Juli 1992&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Papyrus;"&gt;“This poet is also dedicated to &lt;b style=""&gt;Irvan Lubis… &lt;/b&gt;Now I understand that death is not the end of our journey&lt;b style=""&gt;”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Papyrus;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-1508963446315623692?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/1508963446315623692/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=1508963446315623692' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/1508963446315623692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/1508963446315623692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/02/puisi-bendera-tua-2.html' title='Puisi : Bendera Tua (2)'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-5794136979842011229</id><published>2008-02-08T13:31:00.000+07:00</published><updated>2008-02-08T13:32:54.205+07:00</updated><title type='text'>Puisi : Bendera Tua</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Bendera Tua&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Saat matahari tenggelam di ufuk barat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Aku ingat pada bendera itu…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Bendera tuamu yang usang dan kusam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Aku ingat pada saat-saat itu…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Kamboja turun perlahan terbawa angin dingin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;dan jatuh ke tanah tanpa ada yang perduli&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Aku ingat…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Bendera itu kau kibarkan pada tiang yang tinggi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;agar semuanya terlihat olehku yang tersesat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Air sungai mengalir berirama merdu di telingaku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Aku mulai cari benderamu saat itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;dan kau berdiri di sana melambaikan tanganmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;di bawah benderamu yang tinggi berkibar-kibar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Aku ingat bendera tuamu itu…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Sementara kamboja lain mulai mekar di sekelilingmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Kau pergi ke jurang keabadianmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Dan bendera tuamu kuturunkan dengan lambat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Angin tak bertiup, bendera tuamu menunduk&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Sebait angin halus menerpa muka pandumu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Kulipat benderamu dan kusimpan dalam lemariku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;‘tuk kukenang selama aku ada&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Bandung, Juli 1992&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Papyrus;"&gt;“This poet is dedicated to my real best friend who passed away when he was only 17 ………..&lt;b style=""&gt;Irvan Lubis”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-5794136979842011229?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/5794136979842011229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=5794136979842011229' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/5794136979842011229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/5794136979842011229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/02/puisi-bendera-tua.html' title='Puisi : Bendera Tua'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-4477645485632997409</id><published>2008-02-04T10:34:00.000+07:00</published><updated>2008-02-04T10:51:03.301+07:00</updated><title type='text'>Berantem !!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/R6aJ-g1LLJI/AAAAAAAAAAo/Smi0cCMBXQo/s1600-h/P9150193.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/R6aJ-g1LLJI/AAAAAAAAAAo/Smi0cCMBXQo/s200/P9150193.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162965729884712082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Eits, jangan salah sangka dulu.  Bukannya saya yang berantem ama istri, tapi anak pertama dan kedua saya yang hampir setiap hari pasti berantem.  Namanya juga anak-anak, pasti gak jauh dari yang namanya rebutan mainan.  Apalagi Neyra dan Aisyah sama-sama cewek, mulai dari rebutan boneka sampai rebutan rumah-rumahan...pokoknya seru deh kalo ngelihat mereka lagi berantem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kalanya mereka akur juga sih...nih fotonya kalo lagi akur...&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/R6aLYQ1LLKI/AAAAAAAAAAw/YuQkgLt2NFI/s1600-h/PC050341.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/R6aLYQ1LLKI/AAAAAAAAAAw/YuQkgLt2NFI/s200/PC050341.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162967271777971362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, si bungsu (Irsyad) seringkali jadi 'korban' kegemesan dari Aisyah yang senengnya nyubitin pipinya Irsyad.  Aduh, pokoknya rumah jadi rame banget deh kalo mereka udah mulai pada teriak-teriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gitu deh ceritanya hari ini...mudah-mudahan aja mereka tetap ceria n riang gembira...Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-4477645485632997409?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/4477645485632997409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=4477645485632997409' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/4477645485632997409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/4477645485632997409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/02/berantem.html' title='Berantem !!'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/R6aJ-g1LLJI/AAAAAAAAAAo/Smi0cCMBXQo/s72-c/P9150193.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-617417989797368896</id><published>2008-01-23T11:24:00.000+07:00</published><updated>2008-01-23T11:28:16.100+07:00</updated><title type='text'>Khilafah by:Nadirsyah Hosen</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: lucida grande; font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Ada diskusi menarik mengenai sistem Khilafah di sebuah milis, berikut ini rangkuman pendapat dari DR.Nadirsyah Hosen (dosen Islamic Law di Univ. of Wollongong, Australia) di milis tsb, enjoy it..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dear all,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Biar diskusinya makin hangat...saya bikin saja dalam bentuk tanya-jawab. Pertanyaan saya munculkan dan kemudian saya berikan jawabannya. Semoga bermanfaat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;salam,&lt;br /&gt;=nadir=&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;1. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Wajibkah mendirikan khilafah?&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Tidak wajib! Yang wajib itu adalah memiliki pemimpin, yang dahulu disebut khalifah, kini bebas saja mau disebut ketua RT, kepala suku, presiden, perdana menteri, etc. Ada pemelintiran seakan-akan para ulama mewajibkan mendirikan khilafah, padahal arti kata "khilafah" dalam teks klasik tidak otomatis bermakna sistem pemerintahan Islam (SPI) yang dipercayai oleh para pejuang pro-khilafah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Masalah kepemimpinan ini simple saja: “ &lt;i style=""&gt;Nabi mengatakan kalau kita pergi bertiga, maka salah satunya harus ditunjuk jadi pemimpin&lt;/i&gt;”. Tidak ada nash yang qat'i di al-Qur'an dan Hadis yang mewajibkan mendirikan SPI (baca: khilafah ataupun negara Islam). Yang disebut "khilafah" sebagai SPI itu sebenarnya hanyalah kepemimpinan yang penuh dengan keragaman dinamika dan format. Tidak ada format kepemimpinan yang baku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;2. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bukankah ada Hadis yang mengatakan khilafah itu akan berdiri lagi di akhir zaman?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Para pejuang berdirinya khilafah percaya bahwa Nabi telah menjanjikan akan datangnya kembali khilafah di akhir jaman nanti. Mereka menyebutnya dengan khilafah 'ala minhajin nubuwwah. Ini dalil&lt;br /&gt;pegangan mereka:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;"&lt;i style=""&gt;Adalah masa Kenabian itu ada di tengah tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah 'ala minhajin nubuwwah), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya (menghentikannya) apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Kemudian adalah masa Kerajaan yang menggigit (Mulkan 'Adldlon), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyah), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah 'ala minhajin nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam&lt;/i&gt;." (Musnad Ahmad:IV/273) .&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Cukup dengan berpegang pada dalil di atas, para pejuang khilafah menolak semua argumentasi rasional mengenai absurd-nya sistem khilafah. Mereka menganggap kedatangan kembali sistem khilafah adalah sebuah keniscayaan. Ada baiknya kita bahas saja dalil di atas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Salah satu rawi Hadis di atas bernama Habib bin Salim. Menurut Imam Bukhari, "fihi nazhar". Inilah sebabnya imam Bukhari tidak pernah menerima hadis yang diriwayatkan oleh Habib bin Salim tsb. Di samping itu, dari 9 kitab utama (kutubut tis'ah) hanya Musnad Ahmad yang meriwayatkan hadis tsb. Sehingga "kelemahan" sanad hadis tsb tidak bisa ditolong.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Rupanya Habib bin salim itu memang cukup "bermasalah" . Dia membaca hadis tsb di depan khalifah 'umar bin abdul aziz utk menjustifikasi bhw kekhilafahan 'umar bin abdul azis merupakan khilafah 'ala&lt;br /&gt;minhajin nubuwwah. Saya menduga kuat bhw Habib mencari muka di depan khalifah karena sebelumnya ada sejumlah hadis yang mengatakan:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;"&lt;i style=""&gt;setelah kenabian akan ada khilafah 'ala minhajin nubuwwah, lalu akan muncul para raja&lt;/i&gt;."&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Hadis ini misalnya diriwayatkan oleh thabrani (dan dari penelaahan saya ternyata sanadnya majhul). Saya duga hadis thabrani ini muncul pada masa mu'awiyah atau yazid sebagai akibat pertentangan&lt;br /&gt;politik saat itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;"Khilafah 'ala minhajin nubuwwah" di teks thabrani ini me-refer ke khulafa al-rasyidin, lalu "raja" me-refer ke mu'awiyah dkk. Tapi tiba-tiba muncul umar bin abdul azis --dari dinasti umayyah—yang baik dan adil. Apakah beliau termasuk "raja" yg ngawur dlm hadis tsb?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Maka muncullah Habib bin Salim yg bicara di depan khalifah Umar bin Abdul Azis bhw hadis yg beredar selama ini tidak lengkap. Menurut versi Habib, setelah periode para raja, akan muncul lagi khilafah 'ala minhajin nubuwwah--&gt; dan ini merefer ke umar bin abdul azis. Jadi nuansa politik hadis ini sangat kuat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Repotnya, term khilafah 'ala minhajin nubuwwah yg dimaksud oleh Habib (yaitu Umar bin abdul azis) sekarang dipahami oleh Hizbut Tahrir (dan kelompok sejenis) sebagai jaminan akan datangnya khilafah lagi di kemudian hari. Mereka pasti repot menempatkan umar bin abdul azis dalam urutan di atas tadi: kenabian, khilafah 'ala mihajin nubuwwah periode pertama (yaitu khulafa al-rasyidin) , lalu para raja, dan khilafah 'ala minhajin nubuwwah lagi. Kalau khilafah 'ala minhajin nubuwwah periode yg kedua baru muncul di akhir jaman maka umar bin abdul azis termasuk golongan para raja yang ngawur :-)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Saya kira kita memang haus bersikap kritis terhadap hadis-hadis berbau politik. Sayangnya sikap kritis ini yang sukar ditumbuhkan di kalangan para pejuang khilafah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;3. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bukankah khilafah adalah solusi dari masalah ummat? Selama ummat islam mengadopsi sistem kafir (demokrasi) maka ummat Islam tidak akan pernah jaya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Di sinilah letak perbedaannya: sistem khilafah itu dianggap sempurna, sedangkan sistem lainnya (demokrasi, kapitalis, sosialis, dll) adalah buatan manusia. Kalau kita menemukan contoh "jelek"&lt;br /&gt;dalam sejarah Islam, maka kita buru-buru bilang, "yang salah itu manusianya, bukan sistem Islamnya!". Tapi kalau kita melihat contoh "jelek" dalam sistem lain, kita cenderung untuk bilang, "demokrasi hanya menghasilkan kekacauan!". Jadi, yang disalahkan adalah demokrasinya. Ini namanya kita sudah menerapkan standard ganda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Biar adil, marilah kita melihat bahwa yang disebut sistem khilafah itu sebenarnya merupakan sistem yang juga tidak sempurna, karena ia merupakan produk sejarah, dimana beraneka ragam pemikiran dan praktek telah berlangsung. Sayangnya, karena dianggap sudah "sempurna" maka sistem khilafah itu seolah-olah tidak bisa direformasi. Padahal banyak sekali yang harus direformasi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Contoh: dalam sistem khilafah pemimpin itu tidak dibatasi periode jabatannya (tenure). Asalkan dia tidak melanggar syariah, dia bisa berkuasa seumur hidup. Dalam sistem demokrasi, hal ini tidak bisa&lt;br /&gt;diterima. Meskipun seorang pemimpin tidak punya cacat moral, tapi kekuasaannya dibatasi sampai periode tertentu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Saya maklum kenapa sistem khilafah tidak membatasi jabatan khalifah. Soalnya pada tahun 1924 khilafah sudah bubar, padahal pada tahun 1933 (the &lt;span class="yshortcuts"&gt;22nd Amendment&lt;/span&gt;) Amerika baru mulai membatasi jabatan presiden selama dua periode saja. Sayangnya, buku ttg khilafah yang ditulis setelah tahun 1933 masih saja tidak membatasi periode jabatan khalifah. Itulah sebabnya kita &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menyaksikan bahwa dalam sepanjang sejarah Islam, khalifah itu naik-turun karena wafat, di&lt;br /&gt;bunuh, atau dikudeta. Tidak ada khalifah yg turun karena masa jabatannya sudah habis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Contoh lainnya, sistem khilafah selalu mengulang-ulang mengenai konsep baiat (al-bay`ah) dan syura. Tapi sayang berhenti saja sampai di situ [soalnya sudah dianggap sempurna sih :-)]. Dalam tradisi&lt;br /&gt;barat, electoral systems itu diperdebatkan dan terus "disempurnakan" dalam berbagai bentuknya. Dari mulai sistem proporsional, distrik sampai gabungan keduanya. Begitu juga dengan sistem parlemen. Dari mulai unicameral sampai bicameral system dibahas habis-habisan, dan perdebatan terus berlangsung untuk menentukan sistem mana yang lebih bisa merepresentasikan suara rakyat dan lebih bisa menjamin tegaknya mekanisme check and balance.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Tapi kalau kita mau "melihat" ke teori barat, nanti kita dituduh terpengaruh orientalis atau terjebak pada sistem kafir. Akhirnya kita terus menerus memelihara teori yg sudah ketinggalan kereta.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;4. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kalau khilafah berdiri, maka ummat islam akan bersatu. Lantas kenapa harus ditolak? Bukankah kita menginginkan persatuan ummat?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Sejumlah dalil mengenai persatuan ummat Islam dan kaitannya dengan khilafah banyak dikutip oleh&lt;br /&gt;"pejuang khilafah" belakangan ini: &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Rasulullah SAW bersabda: &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;"Jika dibai'at dua orang Khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya." (HR. Muslim) &lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Bagaimana "rekaman" sejarah soal ini? Ini daftar tahun berkuasanya khilafah yang sempat saya catat&lt;br /&gt;(sila dikoreksi kalau keliru): &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt;"&gt;1. Ummayyah (661-750)&lt;br /&gt;2. Abbasiyah (750-1258)&lt;br /&gt;3. Umayyah II (780-1031)&lt;br /&gt;3. Buyids (945-1055)&lt;br /&gt;4. Fatimiyah (909-1171)&lt;br /&gt;5. Saljuk (1055-1194)&lt;br /&gt;6. Ayyubid (1169-1260)&lt;br /&gt;7. Mamluks (1250-1517)&lt;br /&gt;8. Ottoman (1280-1922)&lt;br /&gt;9. Safavid (1501-1722)&lt;br /&gt;10. Mughal (1526-1857) &lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Dari daftar di atas kita ketahui bahwa selepas masa Khulafa al-Rasyidin, ternyata hanya pada masa Umayyah dan awal masa Abbasiyah saja terdapat satu khalifah untuk semua ummat Islam. Sejak tahun 909 (dimana Abbasiyah masih berkuasa) telah berdiri juga kepemimpinan ummat di &lt;span class="yshortcuts"&gt;Egypt&lt;/span&gt; oleh Fatimiyyah (bahkan pada periode Fatimiyah inilah Universitas al-Azhar &lt;span class="yshortcuts"&gt;Cairo&lt;/span&gt; dibangun).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Di masa Abbasiyah, &lt;span class="yshortcuts"&gt;Cordova&lt;/span&gt; (Andalusia) juga memisahkan diri dan punya kekhalifahan sendiri (Umayyah II). Di Andalusia inilah sejarah Islam dicatat dengan tinta emas, namun pada saat yang sama terjadi kepemimpinan ganda di tubuh ummat, toh tetap dianggap sukses juga :-)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Pada masa Fatimiyyah di Mesir (909-1171), juga berdiri kekuasaan lainnya: Buyids di Iran-Iraq (945-1055). Buyids hilang, lalu muncul Saljuk (1055-1194), sementara Fatimiyah masih berkuasa di Mesir sampai 1171. Ayubid meneruskan Fatimiyyah dengan kekuasaan meliputi Mesir dan Syria (1169-1260). Dan seterusnya.. .silahkan diteruskan sendiri. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Jadi, sejarah menunjukkan bahwa khilafah itu tidak satu; ternyata bisa ada dua atau tiga khalifah pada saat yang bersamaan. Siapa yang dipenggal lehernya dan siapa yang memenggal? Mana yang sah dan mana yang harus dibunuh? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Kita harus kritis membaca Hadis-Hadis "politik" di atas. Saya menduga kuat Hadis semacam itu baru dimunculkan ketika terjadi pertentangan di kalangan ummat islam sepeninggal rasul. Alih-alih bermusyawarah, spt yang diperintahkan &lt;span class="yshortcuts"&gt;Qur'an&lt;/span&gt;, para elit Islam tempo doeloe malah melegitimasi pertempuran berdarah dengan Hadis-Hadis semacam itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Sejumlah Ulama yg datang belakangan kemudian berusaha "mentakwil" makna Hadis di atas. Mereka menyadari bahwa situasi sudah berubah, dan Islam sudah meluas sampai ke pelosok kampung. Pernyataan Nabi di atas tidak bisa dilepaskan dari konteks traditional- state di &lt;span class="yshortcuts"&gt;Madinah&lt;/span&gt;, dimana resources, jumlah penduduk, dan luas wilayah masih sangat terbatas. Cocok-kah Hadis itu diterapkan pada saat ini? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Berpegang teguh pada makna lahiriah Hadis di atas akan membuat darah tumpah dimana-mana. Contoh saja, karena tidak ada aturan yg jelas, maka para ulama berdebat, spt direkam dengan baik oleh al-Mawardi, M. Abu faris dan Wahbah al-Zuhayli: berapa orang yg dibutuhkan utk membai'at seorang khalifah? Ada yg bilang &lt;span class="yshortcuts"&gt;lima&lt;/span&gt; [karena Abu Bakr dipilih oleh 5 orang], tiga [dianalogikan dengan aqad nikah dimana ada 1 wali dan 2 saksi], bahkan satu saja cukup [Ali diba'iat oleh Abbas saja]. Jadi, cukup 5 orang saja utk membai'at khalifah. Aturan itu cocok untuk kondisi Madinah jaman dulu, namun terhitung "menggelikan" untuk jaman sekarang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Disamping itu, urusan "memenggal kepala" itu tidak lagi cocok dengan situasi sekarang. Contoh: ribut-ribut jumlah suara antara AlGore dengan Bush 4 th lalu diselesaikan bukan dengan putusnya leher salah satu di antara mereka. Begitu juga Gus Dur tidak bisa meminta kepala Mega dipenggal ketika Mega "merebut" kekeuasaannya tempo hari. Mekanisme konstitusi yg menyelesaikan semua itu. Nah, mekanisme itu yang di jaman dulu kagak ada. Apa kita mau balik ke jaman itu lagi? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Akhirnya, dengan adanya catatan sejarah yg menunjukkan bahwa terdapat beberapa khalifah dalam masa yang sama, di wilayah yang berbeda, Hadis politik di atas sudah tidak cocok lagi diterapkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;5. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jawaban anda sebelumnya seolah-olah hendak mengatakan bahwa berdirinya khilafah justru akan menimbulkan pertumpahan darah sesama ummat islam, bukan menghadirkan persatuan spt yang didengungkan para pejuang khilafah saat ini. Betulkah demikian? Benarkah sejarah khilafah menunjukkan pertumpahan darah tsb?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Ketika Bani Abbasiyah merebut khilafah, darah tertumpah di mana-mana. Ini "rekaman" kejadiannya:&lt;br /&gt;Pasukan tentara Bani Abbas menaklukkan kota Damsyik, ibukota Bani Umayyah, dan mereka "memainkan" pedangnya di kalangan penduduk , sehingga membunuh kurang lebih &lt;span class="yshortcuts"&gt;lima&lt;/span&gt; puluh ribu orang. Masjid Jami' milik Bani Umayyah, mereka jadikan kandang kuda-kuda mereka selama tujuh puluh hari, dan mereka menggali kembali kuburan Mu'awiyah serta Bani Umayyah lainnya. Dan ketika mendapati jasad Hisyam bin Abdul Malik masih utuh, mereka lalu menderanya dengan cambuk-cambuk dan menggantungkannya di hadapan pandangan orang banyak selama beberapa&lt;br /&gt;hari, kemudian membakarnya dan menaburkan abunya. Mereka juga membunuh setiap anak dari kalangan Bani Umayyah, kemudian menghamparkan permadani di atas jasad-jasad mereka yang sebagiannya masih menggeliat dan gemetaran, lalu mereka duduk di atasnya sambil makan. Mereka juga membunuh semua anggota keluarga Bani Umayyah yang ada di kota Basrah dan menggantungkan jasad-jasad mereka dengan lidah-lidah mereka, kemudian membuang mereka di jalan-jalan kota itu untuk makanan anjing-anjing. Demikian pula yang mereka lakukan terhadap Bani Umayyah di Makkah dan Madinah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Kemudian timbul pemberontakan di kota Musil melawan as-Saffah yang segera mengutus saudaranya, Yahya, untuk menumpas dan memadamkannya. Yahya kemudian mengumumkan di kalangan rakyat: "Barangsiapa memasuki masjid Jami', maka ia dijamin keamananya." Beribu-ribu orang secara berduyun-duyun memasuki masjid, kemudian Yahya menugaskan pengawal-pengawalnya menutup pintu-pintu Masjid dan menghabisi nyawa orang-orang yang berlindung mencari keselamatan itu. Sebanyak sebelas ribu orang meninggal pada peristiwa itu. Dan di malam harinya, Yahya mendengar tangis dan ratapan kaum wanita yang suami-suaminya terbunuh di hari itu, lalu ia pun memerintahkan pembunuhan atas kaum wanita dan anak-anak, sehingga selama tiga hari di kota Musil digenangi oleh darah-darah penduduknya dan berlangsunglah selama itu penangkapan dan penyembelihan yang tidak sedikit pun memiliki belas kasihan terhadap anak kecil, orang tua atau membiarkan seorang laki-laki atau melalaikan seorang wanita.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;...&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;Seorang ahli fiqh terkenal di Khurasn bernama Ibrahim bin Maimum percaya kepada kaum Abbasiyin yang telah berjanji "akan menegakkan hukum-hukum Allah sesuai dengan al-Qur'an dan Sunnah". Atas dasar itu ia menunjukkan semangat yang berkobar-kobar dalam mendukung mereka, dan selama pemberontakan itu berlangsung, ia adalah tangan kanan Abu Muslim al-Khurasani. Namun ketika ia, setelah berhasilnya gerakan kaum Abbasiyin itu, menuntut kepada Abu Muslim agar menegakkan hukum-hukum Allah dan melarang tindakan-tindakan yang melanggar kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, &lt;span class="yshortcuts"&gt;segera&lt;/span&gt; ia dihukum mati oleh Abu Muslim.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Cerita di atas bukan karangan orientalis tapi bisa dibaca di Ibn Atsir, jilid 4, h. 333-340, al-Bidayah, jilid 10, h. 345; Ibn Khaldun, jilid 3, h. 132-133; al-Bidayah, jilid 10, h. 68; al-Thabari, jilid 6, h. 107-109. Buku-buku ini yang menjadi rujukan Abul A'la al-Maududi ketika menceritakan ulang kisah di atas dalam al-Khilafah wa al-Mulk. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Note:&lt;br /&gt;Yang jelas sejarah "buruk" kekhilafahan bukan hanya milik khalifah Abbasiyah, tapi juga terjadi di masa Umayyah (sebelum Abbasiyah) dan sesudah Abbasiyah. Misalnya, menurut al-Maududi, dalam periode khilafah pasca khulafatur rasyidin telah terjadi: perubahan aturan pengangkatan khalifah spt yang dipraktekkan sebelumnya, perubahan cara hidup para khalifah, perubahan kondisi baitul mal, hilangnya kemerdekaan mengeluarkan pendapat, hilangnya kebebasan peradilan, berakhirnya pemerintah berdasarkan syura, munculnya kefanatikan kesukuan, dan hilangnya kekuasaan hukum.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Sejarah itu seperti cermin: ada yang baik dan ada yang buruk. Kita harus menyikapinya secara proporsional; jangan "buruk muka, cermin dibelah. Sengaja saya tampilkan sisi buruknya agar kita tidak hidup dalam angan-angan atau nostalgia masa lalu saja, tanpa mengetahui sisi buruk masa lalu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kesan bahwa dengan menjadikan "khilafah is the (only) solution" maka kita melupakan bahwa sebenarnya banyak kisah kelam (sebagaimana juga banyak kisah "keemasan") dalam masa kekhilafahan itu. Jadi, mendirikan kembali khilafah tidak berarti semua problem akan hilang dan lenyap; mungkin kehidupan tanpa problem itu hanya ada di surga saja :-)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;6. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ada sejumlah kewajiban yang pelaksanaannya tidak terletak di tangan individu rakyat. Di antaranya adalah pelaksanaan hudûd, jihad fi sabilillah untuk meninggikan kalimat Allah, mengumpulkan zakat dan mendistribusikannya , dan seterusnya. Sejumlah kewajiban syariat ini bergantung pada pengangkatan Khalifah. Bukankah di sinilah letak urgensinya kita mendirikan khilafah?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara berpikir anda itu masih menganggap khilafah itu sama dengan sebuah sistem pemerintahan Islam [SPI}, padahal hadis-hadis yang menyinggung soal khilafah itu hanya bicara mengenai pentingnya mengangkat pemimpin (dan sekarang semua negara punya pemimpin kan?).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Kalau pertanyaannya saya tulis ulang: bukankah sebagian pelaksanaan syariat islam membutuhkan campur tangan pemimpin? jawabannya benar,dan itulah yang sudah dilakukan di sejumlah negara: misalnya memungut zakat, menentukan 1 &lt;span class="yshortcuts"&gt;Ramadan&lt;/span&gt; dan 1 Syawal, dst. Jadi, syariat Islam sudah bisa berjalan saat ini tanpa harus ada khilafah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Lha wong kita sholat, puasa, sekolah, makan, bekerja, menikah, dst adalah bagian dari syariat Islam dan kita bisa menjalaninya meski tidak ada khilafah dalam arti SPI. Kita menjalaninya karena pemimpin kita membebaskan kita melakukan itu semua. Kita tidak dilarang menjalankannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Di saudi Arabia, tanpa ada khilafah sekalipun hukuman potongan tangan (hudud) sudah diberlakukan. Bukan berarti saya setuju dg penerapan hudud ini. Saya hanya ingin menunjukkan tanpa khilafah (baca: SPI) maka syariat Islam juga bisa diterapkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;7. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Apa lagi letak keberatan anda thd ide mendirikan khilafah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Kalau khilafah berdiri maka dunia ini tidak akan damai. Perang terus menerus. Para pejuang khilafah menerima saja mentah-mentah Hadis yang mengungkapkan 3 langkah dlm berurusan dengan non-muslim:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt;"&gt;1. ajak mereka masuk Islam&lt;br /&gt;2. kalau mereka enggan, suruh mereka bayar jizyah&lt;br /&gt;3. kalau enggan masuk Islam dan enggan bayar jizyah, maka perangilah mereka.&lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Kalau &lt;span class="yshortcuts"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; sekarang berubah menjadi khilafah, maka &lt;span class="yshortcuts"&gt;Singapore&lt;/span&gt;, &lt;span class="yshortcuts"&gt;Thailand&lt;/span&gt;, Philipine dan Australia akan diajak masuk Islam, atau bayar jizyah, atau diperangi. Masya Allah!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Simak cerita Dr. Jeffrey Lang di bawah ini (yang diceritakan ulang oleh Dr Jalaluddin Rakhmat):&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Kira-kira dua bulan setelah saya masuk Islam, mahasiswa-mahasiswa Islam di universitas tempat saya mengajar mulai mengadakan pengajian setiap Jumaat malam di masjid universitas. Ceramah kedua disampaikan oleh Hisyam, seorang mahasiswa kedokteran yang sangat cerdas yang telah belajar di Amerika selama hampir sepuluh tahun. Saya sangat menyukai dan menghormati Hisyam. Dia berbadan agak bulat dan periang, dan mukanya tampak sangat ramah. Dia juga mahasiswa Islam yang sangat bersemangat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Malam itu Hisyam berbicara tentang tugas dan tanggungjawab seorang Muslim. Dia berbicara panjang lebar tentang ibadah dan kewajiban etika orang yang beriman. Ceramahnya sangat menyentuh dan telah berjalan kira-kira satu jam ketika dia menutupnya dngan ucapan yang tidakdisangka-sangka berikut ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;"Akhirnya, kita tidak dapat lupa - dan ini benar-benar penting – bahwa sebagai orang Muslim, kita wajib untuk merindukan, dan ketika mungkin berpartisipasi di dalamnya, yakni menggulingkan pemerintah yang tidak Islami - di mana pun di dunia ini - dan menggantinya denganpemerintahan Islam."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;"Hisyam!" Saya mencela. "Apakah anda bermaksud mengatakan bahwa warga negara Muslim Amerika harus melibatkan diri dalam penghancuran pemerintah Amerika? Sehingga mereka harus menjadi pasukan kelima di Amerika; suatu gerakan revolusioner bawah tanah yang berusahauntuk menggulingkan pemerintah? Apakah yang kamu maksudkan adalah jika seorang Amerika masuk Islam, dia harus melibatkan diri dalam pengkhianatan politik?!"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Saya berfikir begitu dengan maksud memberikan Hisyam suatu skenario yang sangat ekstrem, sehingga dapat memaksanya untuk melunakkan atau merubah pernyataannya. Dia menundukkan pandangannya ke lantai sementara dia merenungi pertanyaan saya sebentar. Kemudian dia menatap saya dengan suatu ekspresi yang mengingatkan saya terhadap seorang doktor yang hendak menyampaikan khabar kepada pesakitnya bahwa tumornya adalah tumor berbahaya. "Ya," dia berkata, "Ya, itu benar."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Dr. Jeffrey Lang, muslim Amerika yang juga profesor matematik di Universitas &lt;span class="yshortcuts"&gt;Kansas&lt;/span&gt;, menceritakan pengalaman di atas untuk menunjukkan betapa "absurdnya" gagasan mendirikan negara Islam bagi orang Islam di Amerika. "Bagi mereka, ide bahwa kaum Muslim – menurut agama mereka -berkewajiban untuk menyerang negara-negara yang tidak agresif seperti Swiss, Brzail, Ekuador atau jika mereka tidak mau tunduk kepada Islam sangat tidak masuk akal," kata Dr. Lang selanjutnya. Anehnya, di mana saja Dr. Lang menemukan wacana negara Islam ini dikemukakan, baik di meja diskusi ilmiah maupun di medan perang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Sekian kutipan dari Dr Jeffrey Lang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Kalau kita sekarang nggak suka dengan doktrin pre-emptive strikenya Bush, maka sebenarnya kalau sekarang khilafah berdiri, maka khilafah itu juga memiliki doktrin yang sama. Sungguh mengerikan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Hadis di atas telah diplintir maknanya sedemikian rupa sehingga khilafah akan menjadi monster yang memaksa negara sekitarnya utk memeluk Islam dg cara diperangi. Inilah salah satu keberatan saya dg&lt;br /&gt;ide mendirikan kembali khilafah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;8. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Saya heran dengan anda. CIA saja sudah bisa memprediksi bahwa khilafah akan berdiri pada tahun 2020. Kalau musuh-musuh islam saja percaya dengan hal ini, bagaimana mungkin anda sebagai Muslim malah tidak mendukung berdirinya khilafah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Biar nggak Ge-Er, kawan-kawan yang pro-khilafah coba baca baik-baik laporan lengkapnya di sini: www.foia.cia. gov/2020/ 2020.pdf&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Intinya, CIA membuat 4 skenario FIKTIF sbg gambaran situasi tahun 2020. Khilafah itu hanya satu dari empat skenario fiktif tsb. Jadi jangan diplintir seolah-olah CIA mengatakan khilafah akan berdiri tahun 2020 :-)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Possible Futures&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;In this era of great flux, we see several ways in which major global changes could take shape in the next 15 years, from seriously challenging the nation-state system to establishing a more robust and inclusive globalization. In the body of this paper we develop these concepts in four fictional scenarios which were extrapolated from the key trends we discuss in this report. These scenarios are not meant as actual forecasts, but they describe possible worlds upon whose threshold we may be entering, depending on how trends interweave and play out:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="yshortcuts"&gt;&lt;b style=""&gt;Davos&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt; World &lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;" illustrating "how robust economic growth, led by &lt;span class="yshortcuts"&gt;China &lt;/span&gt;and &lt;span class="yshortcuts"&gt;India&lt;/span&gt;, â€¦ could reshape the globalization process";&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Pax Americana &lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;" "how US predominance may survive the radical changes to the global political landscape and serve to fashion a new and inclusive global order";&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;A New Caliphate&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;" "how a global movement fueled by radical religious identity politics could constitute a challenge to Western norms and values as the foundation of the global system"; and&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Cycle of Fear&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;" proliferation of weaponry and terrorism "to the point that large-scale intrusive security measures are taken to prevent outbreaks of deadly attacks, possibly introducing an Orwellian world."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;(The quotes are from the report's executive summary.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Of course, these scenarios illustrate just a few of the possible futures that may develop over the next 15 years, but the wide range of possibilities we can imagine suggests that this period will be characterized by increased flux, particularly in contrast to the relative stasis of the &lt;span class="yshortcuts"&gt;Cold War&lt;/span&gt; era. The scenarios are not mutually exclusive: we may see two or three of these scenarios unfold in some combination or a wide range of other scenarios.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Yang menarik, laporan itu juga menyebut-nyebut soal &lt;span class="yshortcuts"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; lho. Ini prediksi mereka:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;"The economies of other developing countries, such as &lt;span class="yshortcuts"&gt;Brazil&lt;/span&gt;, could surpass all but the largest European countries by 2020; Indonesia's economy could also approach the economies of individual European countries by 2020."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Lalu apa yang akan terjadi dengan Amerika (menurut laporan tsb):&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;"Although the challenges ahead will be daunting, the United States will retain enormous advantages, playing a pivotal role across the broad range of issues --economic, technological, political,and military-- that no other state will match by 2020."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;Jadi, dari skenario fiktif yg mereka susun, Amerika tetap saja jaya. Kerjaan CIA kan ya memang begitu...kok bisa-bisanya kawan-kawan pejuang pro-khilafah percaya sama CIA. Bukankah prestasi terbesar CIA adalah saat mengatakan di &lt;span class="yshortcuts"&gt;Iraq&lt;/span&gt; ada weapon of mass destruction (WMD)? Kita tahu ternyata WMD memang fiktif belaka. Yah jangan-jangan khilafah juga bakalan bernasib sama: fiktif.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-617417989797368896?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/617417989797368896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=617417989797368896' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/617417989797368896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/617417989797368896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/01/khilafah-bynadirsyah-hosen.html' title='Khilafah by:Nadirsyah Hosen'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-5351259783214521938</id><published>2008-01-18T09:01:00.000+07:00</published><updated>2008-01-18T09:05:33.745+07:00</updated><title type='text'>Artikel: Perdagangan Derivatif</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;PERDAGANGAN DERIVATIF: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;Menguntungkan atau merugikan?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Oleh: Muhamad Nahdi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Latar Belakang&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Pengertian Derivatif (&lt;i&gt;derivatives&lt;/i&gt;) secara umum adalah sebuah instrumen keuangan (&lt;i&gt;financial instrument&lt;/i&gt;) yang nilainya diturunkan atau didasarkan pada nilai dari aktiva, instrument, atau komoditas yang lain.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Definisi ini bisa didapat di berbagai situs di internet maupun buku-buku teks.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Secara ringkas, bisa dikatakan bahwa derivative hanya ada kalau aktiva, instrumen, atau komoditas lain sebagai instrumen utamanya ada.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Contoh dari derivatif adalah opsi &lt;i&gt;right&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Sebagai ilustrasi dapat dikemukakan contoh sebagai berikut: ada seorang pengusaha impor kopi yang bisa membeli opsi &lt;i&gt;right&lt;/i&gt; dengan harga tertentu untuk membeli kopi dari Brasil dengan kurs yang sudah ditetapkan sebelumnya, misal Rp9.500/USD, yang akan dibayarkan 6 bulan kemudian.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Opsi ini bisa dieksekusi atau tidak tergantung dari situasi yang dihadapi pengusaha tersebut 6 bulan kemudian.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kalau kurs pada waktu 6 bulan kemudian ternyata Rp8.500/USD, maka akan lebih menguntungkan bagi pengusaha tersebut untuk tidak mengeksekusi opsi &lt;i&gt;right&lt;/i&gt;-nya karena kurs pasar lebih murah. Namun, pengusaha tersebut menderita kerugian karena telah mengeluarkan uang untuk membeli opsi &lt;i&gt;right&lt;/i&gt; 6 bulan sebelumnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sedangkan apabila sebaliknya yang terjadi, misal kurs 6 bulan kemudian adalah 1 USD=Rp 10.500, maka pengusaha tersebut bisa mengeksekusi opsi &lt;i&gt;right &lt;/i&gt;yang dimilikinya karena kurs opsi lebih murah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Selain pengertian derivative, ada satu istilah yang berkaitan erat dengan derivative yaitu “manajemen risiko”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Manajemen risiko dapat didefinisikan sebagai proses keseluruhan untuk mengidentifikasi, mengendalikan, dan meminimalkan pengaruh dari ketidakpastian suatu kejadian.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tujuan dari manajemen risiko adalah untuk mengurangi risiko yang dihadapi oleh suatu perusahaan dan untuk meminimalkan kerugian Keuangan (&lt;i&gt;financial losses&lt;/i&gt;) yang mungkin timbul akibat suatu transaksi bisnis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jika dikaitkan dengan contoh di atas, maka bisa dikatakan bahwa pengusaha tersebut berusaha meminimalkan kerugian akibat fluktuasi kurs dengan membeli opsi &lt;i&gt;right&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kerugian maksimal yang mungkin ditanggung oleh pengusaha tersebut adalah sejumlah harga opsi &lt;i&gt;right&lt;/i&gt;-nya yaitu dalam situasi kurs Rupiah menguat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Banyak perusahaan, khususnya di dunia perbankan, yang bangkrut atau mengalami kesulitan Keuangan akibat melakukan transaksi dengan menggunakan instrument derivative.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kasus yang paling terkenal mungkin adalah bangkrutnya bank dagang tertua di Inggris, Barings, pada tahun 1995.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bank Barings dinyatakan bangkrut setelah ekuitasnya gagal menutupi kerugian sejumlah USD 1 milyar akibat perdagangan derivative yang dilakukan oleh salah seorang pegawainya, Nick Leeson.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kasus lainnya adalah krisis Keuangan yang dialami oleh National Australian Bank (NAB) pada Januari 2004 yang juga diakibatkan oleh transaksi derivative yang tidak bijak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menurut sebuah laporan independent dari PriceWaterhouseCoopers (PwC) tentang kasus tersebut, kerugian yang diderita oleh NAB akibat transaksi derivative antara September 2003 sampai Januari 2004 mencapai USD 360 juta.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Berdasarkan hal tersebut di atas, timbul beberapa pertanyaan yang mungkin mengusik para pemain di pasar uang mengenai perdagangan derivative:&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Apakah perdagangan      derivative menguntungkan atau merugikan bagi perusahaan?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Masih bermanfaatkah      penggunaan derivative oleh perusahaan sebagai bagian dari manajemen      risiko?&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kedua pertanyaan mendasar ini perlu dicarikan jawabannya karena dengan mulai ramainya perdagangan derivative, para pemain di pasar derivative harus lebih berhati-hati dan me.&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Solusi&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Para pakar Keuangan terpecah menjadi dua dalam hal perdagangan derivative.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Beberapa mengatakan bahwa perdagangan derivative berguna dan menguntungkan pemegang saham, namun ada pula yang masih mempertanyakan manfaat dari perdagangan derivative.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Walmsley (1998) percaya bahwa paling tidak ada empat kegunaan derivative yaitu: pengalihan risiko (&lt;i&gt;risk tansfer&lt;/i&gt;), peningkatan likuiditas (&lt;i&gt;liquidity improvement&lt;/i&gt;),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penciptaan kredit (&lt;i&gt;credit creation&lt;/i&gt;), dan penciptaan ekuitas (&lt;i&gt;equity creation&lt;/i&gt;).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan menggunakan derivative maka investor atau pengusaha dapat mengalihkan risiko keuangannya karena mereka telah melindungi diri dari ketidakpastian (&lt;i&gt;hedging the risk&lt;/i&gt;).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karena derivative dapat dengan mudah diperdagangkan di pasar uang, maka derivative dipercaya sebagai instrument yang likuid (mudah cair) karena investor atau pengusaha&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dapat meng-uang-kan derivative di pasar uang dengan relative cepat di kala mereka membutuhkan uang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Derivatif juga dapat menciptakan kredit dan ekuitas karena instrument derivative memperluas sumber kredit dan ekuitas dengan menciptakan jenis kredit dan ekuitas yang baru.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Walmsley menegaskan bahwa manfaat penciptaan kredit dan ekuitas ini timbul karena investor dan pengusaha memiliki lebih banyak instrument Keuangan yang bisa dipilih.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Meskipun Walmsley mengakui bahwa ada juga kelemahan dari derivative, seperti bisa menimbulkan ketidakstabilan, tapi Walmsley berkesimpulan: “&lt;i&gt;On balance, however, the innovations that have been made are almost certainly beneficial for the system as a whole&lt;/i&gt;” yang terjemahannya kurang lebih adalah bahwa secara umum derivative yang ada sebagai inovasi instrument Keuangan dapat dipastikan akan menguntungkan untuk sistem (keuangan) secara keseluruhan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Karimova (2002) juga sependapat dengan Walmsley tentang manfaat derivative.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menurutnya tujuan utama dari derivative adalah untuk melindungi perusahaan dalam melakukan transaksi bisnis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tujuan yang diungkapkan oleh Karimova ini dikenal dengan istilah pemagaran (&lt;i&gt;hedging&lt;/i&gt;).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa perusahaan yang menggunakan &lt;i&gt;hedging&lt;/i&gt; dalam melakukan transaksi bisnisnya akan memiliki nilai pasar yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang tidak menggunakan atau berhenti menggunakan &lt;i&gt;hedging&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Di sisi lain, Stout (1996) masih meragukan manfaat perdagangan derivative.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menurutnya perdagangan spekulatif derivative bisa sangat merusak bagi investor dan pemegang saham karena dapat mengikis laba perusahaan dengan cepat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Stout menjelaskan bahwa: “&lt;i&gt;disagreement-based trading in derivatives, like gambling, is a negative-sum game that erodes the wealth and increases the risks of the average player who indulges in it&lt;/i&gt;” yang terjemahan bebasnya adalah bahwa ketidaksetujuan atas perdagangan derivative, seperti halnya atas perjudian, adalah adanya &lt;i&gt;negative-sum game&lt;/i&gt; (yaitu suatu permainan dimana tidak ada satu pihak pun yang menang) yang akan mengikis kekayaan perusahaan sekaligus meningkatkan risiko keuangan bagi pemain yang terlibat di dalamnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Stout juga berpendapat bahwa perdagangan spekulatif derivative adalah lebih berbahaya daripada perjudian karena para pemainnya menempatkan jumlah uang yang besar untuk dipertaruhkan dimana uang tersebut adalah bukan milik para pemain melainkan milik pihak ketiga seperti dana pension, pemegang deposito, dan pemegang saham.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dalam situasi ekonomi seperti ini, para pelaku di pasar derivative dihadapkan pada tingginya tingkat ketidakpastian yang dapat membawa kehancuran pada karir mereka dan perusahaan. Oleh karenanya, Stout tetap meragukan apakah pasar derivative yang berkembang dengan pesat ini adalah pasar asuransi ataukah perjudian.&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Evaluasi Solusi&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dengan mendasarkan pada argumentasi antara yang pro dan kontra terhadap perdagangan derivative, bisa ditarik kesimpulan bahwa saat ini paling tidak ada dua tujuan utama dari perdagangan derivative yaitu perlindungan (&lt;i&gt;hedging&lt;/i&gt;) dan spekulasi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Penulis percaya bahwa pada awalnya derivative timbul dengan tujuan untuk melindungi perusahaan dari ketidakpastian atau fluktuasi ekonomi akibat dilakukannya transaksi bisnis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan kata lain, tujuan utama derivative pada awalnya adalah untuk &lt;i&gt;hedging&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal ini berarti perusahaan dapat mengurangi risiko dari transaksi bisnis dengan mematok hal-hal tertentu (&lt;i&gt;benchmark&lt;/i&gt;) seperti kurs sehingga jika suatu saat nanti terjadi fluktuasi yang tajam atas &lt;i&gt;benchmark&lt;/i&gt; (misalnya kurs) kondisi Keuangan perusahaan akan tetap stabil karena telah dipatok sebelumnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Oleh karenanya perusahaan dapat memfokuskan sumber dayanya untuk aktivitas lain yang lebih berguna daripada sekadar berkonsentrasi mengawasi fluktuasi &lt;i&gt;benchmark&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Krisis ekonomi di dunia, khususnya di Indonesia, tahun 1997 memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi para pelaku ekonomi tentang kebijakan &lt;i&gt;hedging&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di saat kurs rupiah terhadap USD terjun bebas dari sekitar 1 USD=Rp2.500 ke 1 USD=Rp 11.000 – Rp15.000, banyak perusahaan di Indonesia yang memiliki hutang luar negeri dalam bentuk USD mengalami krisis keuangan karena nilai hutangnya melonjak hingga 6 kali lipat sehingga jumlah bunga yang harus dibayar membengkak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sementara itu, perusahaan yang melakukan &lt;i&gt;hedging&lt;/i&gt; atas kurs hutang luar negerinya selamat karena mereka tidak perlu membayar bunga hutang dengan kurs pasar saat itu melainkan cukup membayar bunga sesuai dengan kurs yang telah disepakati pada saat transaksi &lt;i&gt;hedging&lt;/i&gt; sebelum terjadinya krisis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Di sisi lain dapat dilihat bahwa saat ini tidak sedikit pemain di pasar uang yang melakukan perdagangan derivative dengan tujuan untuk mencari keuntungan yang luar biasa besar dalam jangka waktu yang pendek (spekulasi).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perusahaan yang melakukan spekulasi di perdagangan derivative bisa saja meraih keuntungan yang luar biasa besar dalam waktu yang singkat, seperti halnya yang terjadi pada Bank Barings sebelum bangkrut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun, perusahaan juga bisa mengalami kerugian yang sangat besar dalam waktu yang singkat akibat berspekulasi di pasar derivative.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan kata lain, uang yang berasal dari perdagangan derivative adalah “&lt;i&gt;easy come, easy go&lt;/i&gt;” sama halnya seperti dalam perjudian.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Selain itu, seringkali perusahaan tidak mengungkapkan hal ini kepada pemegang saham karena pada saat perusahaan menangguk keuntungan yang besar dari perdagangan spekulatif derivative biasanya pemegang saham tidak menanyakan atau tidak perduli dari mana datangnya keuntungan besar tersebut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pemegang saham biasanya baru menyadari adanya perdagangan spekulatif derivative yang berisiko besar jika perusahaannya menanggung rugi akibat perdagangan derivative tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa perdagangan derivative untuk tujuan perlindungan (&lt;i&gt;hedging&lt;/i&gt;) sebaiknya diterapkan oleh perusahaan sebagai strategi manajemen risiko dalam situasi ekonomi yang diliputi ketidakpastian sehingga dapat terhindar dari kerugian keuangan akibat fluktuasi ekonomi yang terjadi. Meskipun ada biaya yang harus dibayar oleh perusahaan untuk melakukan &lt;i&gt;hedging&lt;/i&gt;, namun adanya kepastian yang ditimbulkan oleh &lt;i&gt;hedging&lt;/i&gt; akan membuat perusahaan bisa beroperasi dengan lebih efektif. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Sebaliknya, perdagangan spekulatif derivative dalam situasi ekonomi yang tidak pasti bukanlah langkah yang bijak bagi perusahaan karena risiko yang dihadapi cukup besar. Manajemen perusahaan juga harus menyadari bahwa uang yang digunakan untuk berspekulasi di pasar derivatif bukanlah uang mereka melainkan uang milik pemegang saham.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dalam situasi ekonomi yang stabil, strategi &lt;i&gt;hedging&lt;/i&gt; tetap bisa diterapkan oleh perusahaan untuk berjaga-jaga seandainya terjadi ketidakstabilan moneter di luar perkiraan para ekonom dan pelaku pasar uang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jika perusahaan merasa bahwa situasi ekonomi cukup aman untuk melakukan perdagangan spekulatif derivative maka kebijakan ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan tetap harus memperhitungkan risiko terburuk sehingga bila terjadi kerugian tidak akan mengganggu kestabilan keuangan perusahaan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Untuk itu, jumlah uang yang akan “dimainkan” di pasar derivative dengan tujuan spekulasi harus dijaga seminimal mungkin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Sebagai penutup akan penulis kutipkan pendapat, atau tepatnya ramalan, Walmsley (1998) mengenai timbulnya berbagai jenis instrument keuangan yang baru: “&lt;i&gt;There will be financial disaster in the future because of the unwise use of financial innovations&lt;/i&gt;” yang terjemahannya kurang lebih: “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Akan terjadi bencana keuangan di masa depan yang diakibatkan oleh penggunaan instrument keuangan yang tidak bijak&lt;/span&gt;”. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: right; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;By: Muhamad Nahdi, February 2007&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-5351259783214521938?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/5351259783214521938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=5351259783214521938' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/5351259783214521938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/5351259783214521938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/01/artikel-perdagangan-derivatif.html' title='Artikel: Perdagangan Derivatif'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-135045437025500396</id><published>2008-01-16T08:59:00.000+07:00</published><updated>2008-01-16T09:23:07.329+07:00</updated><title type='text'>Naruto: My daughter's favorite anime movie</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/R41mpCrxgVI/AAAAAAAAAAY/EG9ZQEM_2os/s1600-h/PB040286.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 297px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/R41mpCrxgVI/AAAAAAAAAAY/EG9ZQEM_2os/s320/PB040286.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155890003690226002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ya, sesuai dengan judulnya, kali ini saya mau cerita tentang anak pertama saya (Neyra, 5,5 tahun) yang suka banget nonton Naruto.  Kalo udah jam 18.30, pasti dia stand-by di depan TV dan gak bisa diganggu gugat deh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, saya sendiri penggemar film-film kartun jepang mulai dari jaman saya SD dulu (inget gak ama VOLTUS?) sampai NARUTO pun saya mengikuti ceritanya.  Rupanya kesukaan saya pada film kartun jepang diikuti oleh Neyra yang sekarang ini lagi ngefans banget ama Naruto. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/R41n8irxgWI/AAAAAAAAAAg/bbzR4VM99x4/s1600-h/uchiha_sasuke.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 146px; height: 108px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/R41n8irxgWI/AAAAAAAAAAg/bbzR4VM99x4/s200/uchiha_sasuke.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155891438209302882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh favorit Neyra di Naruto, sebagai anak perempuan, udah pasti jatuhnya ke UCHIHA SASUKE.  Kalau udah ada Sasuke nongol di film Naruto, Neyra udah kaya cacing kepanasan sambil teriak-teriak. Selain itu, Neyra juga suka merhatiin banget detil dari tiap karakter di Naruto sampai-sampai dia hapal banget ciri-ciri tokoh utama dari Naruto mulai dari Naruto, Sakura, Sasuke, Jiraiya, Gaara, dll.  Sebenarnya ada satu lagi tokoh favorit Neyra di Naruto yaitu Niji (gak tau spelling-nya nih) yang ciri khasnya adalah rambut panjang dan pakaian putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya tokoh-tokohnya saja yang Neyra apal banget, soundtrack film seri-nya baik itu pembuka maupun penutup dia apalin tuh meskipun gak tau bahasa jepang.  Inilah hebatnya film seri kartun Jepang, bagi para penggemar Voltus pasti masih inget kan lagu pembuka dan penutup film seri Voltus? Demikian juga dengan Naruto, sampai-sampai soundtrack-nya juga enak didengar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, Naruto itu mengasyikkan untuk ditonton kok...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-135045437025500396?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/135045437025500396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=135045437025500396' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/135045437025500396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/135045437025500396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/01/naruto-my-daughters-favorite-anime.html' title='Naruto: My daughter&apos;s favorite anime movie'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_NIqtfIpsnuc/R41mpCrxgVI/AAAAAAAAAAY/EG9ZQEM_2os/s72-c/PB040286.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-3634876121235491198</id><published>2008-01-15T14:44:00.001+07:00</published><updated>2008-01-15T14:44:58.656+07:00</updated><title type='text'>Puisi : Koda</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;K o d a&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Lilin itu tertiup angin lalu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Apinya bakar apa saja di dekatnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Aku berusaha menyiramnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Api semakin ganas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Aku berlari tak ingat waktu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Api berakhir di air, aku berlari di air&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Air dingin sentuh mata hatiku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Beberapa teman biarkan diri dibakar api&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Dan jadi abu….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Aku jadi saksi atas upacara kematian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Dan anginpun berhenti bertiup pandangi lilin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Yang meleleh dan akhirnya membeku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Dingin….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Aku kembali seperti dahulu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Menjaga lilin tidak mati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Semoga…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Bandung, September 1990&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-3634876121235491198?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/3634876121235491198/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=3634876121235491198' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/3634876121235491198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/3634876121235491198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/01/puisi-koda.html' title='Puisi : Koda'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-6269053282985405776</id><published>2008-01-15T14:43:00.000+07:00</published><updated>2008-01-15T14:44:11.785+07:00</updated><title type='text'>Puisi : Balada Aku</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Balada Aku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Matahari-matahari&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Bintang-bintang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Bulan-bulan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Semua harapan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Tambah tampan,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Mereka-mereka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Kamu-kamu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Aku-aku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Semua mati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Tanpa nabi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Bandung, Juli 1990&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-6269053282985405776?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/6269053282985405776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=6269053282985405776' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/6269053282985405776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/6269053282985405776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/01/puisi-balada-aku.html' title='Puisi : Balada Aku'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-9102644331926029286</id><published>2008-01-15T14:41:00.000+07:00</published><updated>2008-01-15T14:42:52.096+07:00</updated><title type='text'>Puisi : Perjuangan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Perjuangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Bulanku bercahaya walau redup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Tapi perlahan-lahan sinar itu….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Ah….Aku tak jelas…!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;P a d a m&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Tiba-tiba sedikit cahaya menembus bola mataku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;terbuka….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Sebuah matahari muncul di kelabunya awan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Asaku bangkit, aku bangkit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Dia tersenyum padaku dan ah…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Ada sedikit bahagia dalam jiwaku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Dia siapkan busur dan anak panah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Ia panah bulanku….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Kena !!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Darah hitam mengalir kental&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Bulanku sekarat dan sempat bertaubat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Darah itu semakin mengental&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;dan bulanku meninggal….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Entah mengapa aku tidak menyesal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Ia ajakku tinggalkan bulanku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;hadapi hari-hari penuh pengorbanan dan perjuangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Aku berjalan di atas jalan-Nya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;Bandung, Maret 1990&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Script MT Bold&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-9102644331926029286?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/9102644331926029286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=9102644331926029286' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/9102644331926029286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/9102644331926029286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/01/puisi-perjuangan.html' title='Puisi : Perjuangan'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-4766465656376374083</id><published>2008-01-08T14:57:00.000+07:00</published><updated>2008-01-08T14:58:56.731+07:00</updated><title type='text'>Joke dari Gus Dur (2)</title><content type='html'>&lt;h1&gt;Siapa yang Paling Berani&lt;/h1&gt;  &lt;h3&gt; &lt;p&gt; Di atas geladak kapal perang US Army tiga pemimpin negara sedang "berdiskusi" tentang prajurit siapa yang paling berani. Eh kebetulan di sekitar kapal ada hiu-hiu yang sedang kelaparan lagi berenang mencari makan ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bill Clinton: Kalau Anda tahu ... prajurit kami adalah yang terberani di seluruh dunia ... Mayor .. sini deh ... coba kamu berenang keliling ini kapal sepuluh kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayor: (walau tahu ada hiu) siap pak, demia "The Star Spangled Banner" saya siap ,,, (akhirnya dia terjun dan mengelilingi kapal 10 kali sambil dikejar hiu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayor: (naik kapal dan menghadap) Selesai pak!!! Long Live America!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Clinton: Hebat kamu, kembali ke pasukan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koizumi: (tak mau ketinggal, dia panggil sang sersan) Sersan! Menghadap sebentar (sang Sersan datang) ... coba kamu keliling kapal ini sebanyak 50 kali ... !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sersan: (melihat ada hiu ... glek ... tapi) for the queen I'am ready to serve!!! (pekik sang sersan, kemudian membuka-buka baju lalu terjun ke laut dan berenang keliling 50 kali ... dan dikejar hiu juga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sersan: (menghadap sang perdana menteri)  GOD save the queen!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koizumi: Hebat kamu ... kembali ke tempat ... Anda lihat Pak Clinton ... Prajurit saya lebih berani dari prajurit Anda ... (tersenyum dengan hebat ...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur: Kopral ke sini kamu ... (setelah dayang ...) saya perintahkan kamu untuk terjun ke laut lalu berenang mengelilingi kapal perang ini sebanyak 100 kali ... ok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kopral: Hah ... Anda gila yah ...! Presiden nggak punya otak ... nyuruh berenang bersama hiu ... kurang ajar!!! (sang Kopral pun pergi meninggalkan sang presiden ...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur: (Dengan sangat bangga) Anda lihat Pak Clinton dan Pak ... Cumi Cumi ... kira-kira siapa yang punya prajurit yang paling BERANI!!! ... Hidup Indonesia ... !!! (mbs)&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;sumber: www.okezone.com / humor gus dur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/h3&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-4766465656376374083?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/4766465656376374083/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=4766465656376374083' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/4766465656376374083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/4766465656376374083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/01/joke-dari-gus-dur-2.html' title='Joke dari Gus Dur (2)'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-4843390087611440505</id><published>2008-01-08T14:50:00.000+07:00</published><updated>2008-01-08T14:52:46.671+07:00</updated><title type='text'>Joke dari Gus Dur (1)</title><content type='html'>&lt;h1&gt;Ho ... oh!&lt;/h1&gt;  &lt;h3&gt; &lt;p&gt; Seorang ajudan Presiden Clinton dari Amerika lagi jalan-jalan di Jakarta. Karena bingung dan tersesat, dia kemudian bertanya kepada seorang penjual rokok, "Apa betul ini Jalan Sudirman?" " Ho ... oh!" jawab si penjual rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena bingung dengan jawaban tersebut dia kemudian bertanya lagi kepada seorang Polisi uyang sedang mengatuyr lalu lintas "Apa ini Jalan Sudirman?" di jawab oleh Polisi "Betul!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena bingung mendapat jawaban yang berbeda akhirnya dia bertanya kepada Gus Dur yang waktu itu kebetulan melintas bersama ajudan setianya, "Apa ini Jalan Sudirman?" dijawab oleh Gus Dur "Benar!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bule itu semakin bingung saja karena mendapat tiga jawaban yang berbeda. Lalu akhirnya dia bertanya kepada Gus Dur lagi mengapa waktu tanya tukang rokok dijawab "Ho ... oh!" lalu tanya Polisi dijhawab "Betul!" dan yang terakhir dijawab Gus Dur dengan kata "Benar!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur tertegun untuk sejenak lalu dia berkata "Ooh begini, kalau Anda bertanya kepada tamatan SD maka jawabannya adalah Ho ... oh, kalau yang bertanya kepada tamatan SMA maka jawabannya adalah betul, sedangkan kalau yang bertanya kepada tamatan Universitas maka jawabannya adalah benar!" Ajudan Clinton itu mengangguk dan akhirnya bertanya, "Jadi Anda ini adalah seorang sarjana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan spontan Gus Dur menjawab, "Ho ... oh!"   (mbs)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;sumber: www.okezone.com/humor gus dur&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/h3&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-4843390087611440505?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/4843390087611440505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=4843390087611440505' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/4843390087611440505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/4843390087611440505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/01/joke-dari-gus-dur-1.html' title='Joke dari Gus Dur (1)'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7826605099230154058.post-6639246782139738472</id><published>2008-01-08T14:02:00.000+07:00</published><updated>2008-01-16T07:26:48.683+07:00</updated><title type='text'>Artikel: Era Baru Pengelolaan Kekayaan Negara di Indonesia</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;ERA BARU PENGELOLAAN KEKAYAAN NEGARA DI INDONESIA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;“&lt;i&gt;Ingatlah, kalau jalan Anda terasa berat, itu tandanya Anda sedang mendaki naik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebaliknya, kalau jalan Anda lancar dan enak, berhati-hatilah karena itu pertanda Anda sedang menurun – Rhenald Kasali&lt;/i&gt;”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Oleh : Muhamad Nahdi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1027" style="'position:absolute;" from="-9pt,-18pt" to="6in,-18pt" strokeweight="4.5pt"&gt;  &lt;v:stroke linestyle="thinThick"&gt; &lt;/v:line&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: relative; z-index: 251658240;"&gt;&lt;span style="position: absolute; left: -15px; top: -27px; width: 594px; height: 6px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/Users/Nahdi/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" shapes="_x0000_s1027" height="6" width="594" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Indonesia sedang menuju era baru dalam pengelolaan kekayaan Negara melalui antara lain diterbitkannya Peraturan Pemerintah (PP) nomor 6 tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara / Daerah dan dibentuknya unit kerja baru di bawah Departemen Keuangan Republik Indonesia yang khusus menangani pengelolaan kekayaan Negara yaitu Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mampukah Indonesia membenahi centang perenangnya pengelolaan Kekayaan Negara Indonesia dengan adanya perubahan ini? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Kekayaan Negara Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Ruang lingkup kekayaan negara di Indonesia secara umum meliputi dua hal yaitu: barang yang “&lt;i&gt;dimiliki&lt;/i&gt;” negara (domein privat) dan barang yang “&lt;i&gt;dikuasai&lt;/i&gt;” negara (domein publik).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kedua domein tersebut bersumber dari UUD 1945.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Untuk domein privat bersumber dari pasal 23 UUD 1945 sedangkan domein publik dari pasal 33 ayat (3) UUD 1945.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Yang dimaksud dengan barang “milik” negara adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau perolehan lain yang sah (pasal 1 PP nomor 6 tahun 2006) sedangkan barang “dikuasai” negara adalah bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya yang dikuasai oleh negara untuk dipergunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (pasal 33 ayat (3) UUD 1945).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Memandang cakupan dari kekayaan negara yang begitu luas, dapat dipahami bahwa pengelolaan kekayaan negara Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia tidaklah mudah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun, hal ini tidak bisa dijadikan sebagai alasan gagalnya pengelolaan kekayaan negara di masa lalu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Upaya yang telah dilakukan sebelum terbitnya PP nomor 6 tahun 2006 dirasakan masih belum berhasil menyelesaikan masalah-masalah yang terkait dengan pengelolaan barang “milik” negara.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apalagi kalau bicara mengenai barang “ dikuasai” negara yang belum dikelola dengan baik sehingga negara Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam tapi sebagian besar rakyatnya masih miskin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Sebenarnya, potensi kekayaan negara Indonesia yang sangat besar dan beragam menjadikan Indonesia sebagai negara yang sangat berpotensi untuk memimpin Asia di bidang ekonomi seandainya saja seluruh kekayaan negara tersebut dikelola dengan baik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun, akibat salah kelola maka Indonesia terpuruk dan mengalami kesulitan untuk bangkit kembali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Masalah Kekayaan Negara di Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Indonesia adalah negara yang dilimpahi dengan kekayaan yang melimpah ruah, terutama kekayaan sumber daya alamnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bandingkan saja dengan negara-negara tetangga kita seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura yang sumber daya alamnya lebih sedikit dibandingkan Indonesia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun, mengapa mereka bisa lebih maju daripada Indonesia? Banyak faktor yang menyebabkan Indonesia ketinggalan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Salah satu hal yang kerap dituding sebagai penyebabnya adalah kacaunya pengelolaan Kekayaan Negara di Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Kasus lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan pada Desember 2002 merupakan satu bukti nyata kacaunya pengelolaan Kekayaan Negara kita.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lemahnya pengawasan dan kurangnya perhatian dari pemerintah dianggap sebagai biang dari lepasnya kedua pulau tersebut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lemahnya posisi tawar pemerintah dalam pemberian konsesi pertambangan juga sering kali terjadi sehingga kekayaan alam kita lambat laun hancur dan dikeruk habis oleh negara lain sementara kompensasi yang diterima Indonesia tidaklah sebanding dengan kerusakan yang terjadi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Belum lagi kasus dimana kekayaan negara yang tidak jelas status hukumnya seperti kasus klaim dari pemerintah Cina atas sejumlah aset di Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Jika dilakukan inventarisasi atas masalah-masalah yang menyangkut kekayaan negara sudah pasti akan menghasilkan sebuah buku tebal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun, semua masalah-masalah tersebut bisa disarikan menjadi sebagai berikut: belum adanya upaya inventarisasi seluruh aset Negara, inefisiensi pemanfaatan aset Negara, landasan hukum yang belum menyeluruh dan terpadu, lokasi yang tersebar dan hak penguasaan yang tidak jelas, koordinasi yang lemah, pengawasan yang lemah, konflik kepentingan, dan mudahnya penjarahan aset Negara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Masalah-masalah tersebut sebagian besar merupakan akibat yang ditimbulkan oleh pengelolaan kekayaan Negara yang berantakan di masa yang lalu dimana pengelolaan atas aset Negara bersifat tertutup dalam pengertian adanya ketidakjelasan mengenai siapa pengelola aset Negara dan tidak jelasnya pemanfaatan atau pelepasan asset Negara.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selain itu, pengelolaan kekayaan Negara Indonesia pada masa lalu cenderung berpihak pada kepentingan bisnis dan pribadi semata sehingga aspek kepentingan publik terabaikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Manajemen Kekayaan Negara yang Baik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Secara umum, manajemen aset baik di perusahaan maupun Negara meliputi aktivitas: perencanaan (&lt;i&gt;planning&lt;/i&gt;), perolehan (&lt;i&gt;acquisition&lt;/i&gt;), pemanfaatan (&lt;i&gt;utilization&lt;/i&gt;), dan penghapusan (&lt;i&gt;disposal&lt;/i&gt;) (lihat gambar 1).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;" bordertopcolor="this" borderleftcolor="this" borderbottomcolor="this" borderrightcolor="this"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\Users\Nahdi\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image002.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="square"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/Users/Nahdi/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image003.jpg" shapes="_x0000_s1026" align="left" height="252" hspace="12" width="564" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Gambar 1. Siklus Hidup Kekayaan Negara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Di dalam suatu manajemen aset yang baik, menurut buku “&lt;i&gt;Asset Management: Advancing the State of the Art Into the 21st Century Through Public-Private Dialogue” &lt;/i&gt;yang diterbitkan oleh&lt;i&gt;. Federal Highway Administration and the American Association of State Highway and Transportation Officials &lt;/i&gt;tahun 1996, keempat aktivitas tersebut dilaksanakan dengan berpegang pada tiga pilar utama yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Keputusan yang menyangkut manajemen aset harus didasarkan pada evaluasi atas alternatif-alternatif yang ada dengan mempertimbangkan total biaya yang dikeluarkan, manfaat, dan risiko dari aset tersebut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Contoh: Saat suatu unit kerja pemerintah memerlukan kendaraan dinas sebagai alat untuk melayani masyarakat, maka unit kerja tersebut harus mempertimbangkan semua alternatif pengadaan kendaraan dinas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selama ini, sebagian besar pengadaan kebutuhan kendaraan dinas di unit kerja pemerintah adalah melalui “membeli” tanpa mempertimbangkan alternatif untuk “menyewa”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seharusnya, unit kerja tersebut mempertimbangkan dengan cermat apakah lebih murah “membeli” atau “menyewa”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jika setelah dipertimbangkan biaya dan manfaatnya ternyata lebih murah “menyewa” maka mengapa unit kerja tersebut harus melakukan “pembelian” kendaraan dinas?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Kepemilikan, pengendalian / pengawasan, pertanggungjawaban, dan pelaporan suatu asset harus ditata dengan jelas, dikomunikasikan kepada pengguna (&lt;i&gt;stakeholders&lt;/i&gt;), dan diimplementasikan dengan baik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jika pilar ini kokoh maka tidak akan ada lagi kasus lepasnya aset Negara kepada pihak-pihak yang sebenarnya tidak berhak maupun kasus kerugian yang dialami Negara akibat pelaporan nilai yang tidak wajar dalam neraca pemerintah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Aktivitas manajemen aset harus berada di bawah kerangka kebijakan manajemen aset yang terintegrasi. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tanpa adanya kebijakan yang terintegrasi maka yang terjadi adalah upaya tambal-sulam kebijakan dari penguasa baru yang menggantikan kebijakan penguasa lama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Beberapa ciri atau kriteria dari keberhasilan manajemen aset adalah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 63.75pt; text-align: justify; text-indent: -27.75pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Pengelola mengetahui barang atau aset &lt;b&gt;apa&lt;/b&gt; saja yang dimiliki / dikuasainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 63.75pt; text-align: justify; text-indent: -27.75pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Pengelola mengetahui berada &lt;b&gt;di mana&lt;/b&gt; saja barang atau aset tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 63.75pt; text-align: justify; text-indent: -27.75pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Pengelola mengetahui &lt;b&gt;siapa&lt;/b&gt; yang bertanggung jawab dan memanfaatkan suatu aset tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 63.75pt; text-align: justify; text-indent: -27.75pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Pengelola mengetahui &lt;b&gt;bagaimana&lt;/b&gt; pemanfaatan dari setiap aset yang dimiliki / dikuasainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 63.75pt; text-align: justify; text-indent: -27.75pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Pengelola mengetahui berapa&lt;b&gt; nilai&lt;/b&gt; dari aset yang dimiliki / dikuasainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 63.75pt; text-align: justify; text-indent: -27.75pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Pengelola melakukan &lt;b&gt;review&lt;/b&gt; secara reguler atas semua aset yang dimiliki / dikuasainya apakah masih sesuai dengan kebutuhan organisasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Sudahkah kekayaan negara di Indonesia di masa lalu dikelola sesuai dengan ketiga pilar utama tersebut sehingga keenam kriteria keberhasilan pengelolaan kekayaan negara dipenuhi? Nampaknya kegiatan pengelolaan kekayaan negara di Indonesia di masa lalu belum sepenuhnya sesuai dengan ketiga pilar tersebut sehingga masih saja terjadi masalah-masalah yang telah penulis kemukakan di atas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Pengelolaan Kekayaan Negara di Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tujuan utama pengelolaan kekayaan negara dimanapun adalah untuk melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan demikian, kekayaan negara adalah alat bagi negara untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Misi pengelolaan kekayaan negara yang baik harus memenuhi tiga kriteria yaitu: efisiensi pengeluaran, optimalisasi penerimaan, dan efektivitas pengelolaan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Efisiensi pengeluaran berarti setiap pengeluaran pemerintah untuk pengadaan aset negara harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan tidak di-&lt;i&gt;markup&lt;/i&gt; sehingga tidak terjadi pemborosan APBN.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Optimalisasi penerimaan berarti setiap kekayaan negara harus dapat menghasilkan penerimaan yang optimal untuk negara dan bukan sekadar membebani APBN.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Sedangkan efektivitas pengelolaan berarti kekayaan negara sebagai alat negara berfungsi dan dikelola secara efektif sesuai dengan tujuannya yaitu sebagai alat untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ditinjau dari segi efisiensi pengeluaran, pengelolaan kekayaan negara di Indonesia bisa dianggap masih menyedihkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Praktik &lt;i&gt;markup&lt;/i&gt; yang tidak wajar atas nilai proyek-proyek pemerintah dianggap sebagai sesuatu yang lumrah dan bukan sesuatu yang tabu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perencanaan pengadaan aset negara tidak dilakukan berdasarkan analisis kebutuhan (&lt;i&gt;needs analysis&lt;/i&gt;) yang mendalam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dari segi optimalisasi penerimaan bisa dilihat betapa minimnya sumbangan dari kekayaan negara terhadap APBN dibandingkan dengan potensi yang seharusnya bisa diterima oleh negara.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal ini antara lain diakibatkan oleh masih belum diketahuinya nilai dari potensi kekayaan negara Indonesia sehingga pemerintah cenderung untuk percaya dengan nilai potensi yang disuguhkan oleh para investor meskipun sangat mungkin nilai tersebut sudah mendapatkan &lt;i&gt;markdown&lt;/i&gt; sehingga jauh di bawah nilai potensi yang sesungguhnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dipandang dari segi efektivitas pengelolaan dapat dirasakan bahwa pelayanan negara kepada masyarakat masih belum optimal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bahkan pelayanan dasar (&lt;i&gt;basic services&lt;/i&gt;) yang antara lain mencakup kesehatan dan pendidikan masih sangat kurang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Masyarakat Indonesia yang sudah mendapat pelayanan listrik baru 55 % saja, itupun masih byar-pet.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Berdasarkan indikasi tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pengelolaan kekayaan negara Indonesia masih belum berjalan sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal inipun disadari sepenuhnya oleh para pimpinan negeri ini sehingga berbagai upaya terus dilakukan untuk membenahi pengelolaan kekayaan Negara Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Beberapa langkah yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk memecahkan masalah pengelolaan kekayaan Negara di Indonesia adalah dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 6 tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara / Daerah dan meleburkan unit kerja pengelolaan kekayaan Negara yang selama ini berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) ke dalam Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Departemen Keuangan Republik Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dengan terbitnya PP nomor 6 tahun 2006 diharapkan pengelolaan kekayaan Negara, khususnya Barang “Milik” Negara (BMN) dan Daerah, dapat dilakukan dengan lebih optimal, efisien, dan efektif.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Meskipun PP tersebut masih perlu untuk direvisi di beberapa bagian, namun secara umum PP ini telah mengakomodasi hampir semua aspek pengelolaan kekayaan Negara yang baik sesuai dengan tiga pilar seperti yang tersebut di awal artikel ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Untuk mencegah agar PP ini tidak menjadi “macan ompong” maka ada beberapa hal yang harus dilakukan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Peraturan pelaksanaan dari PP tersebut harus segera diterbitkan sehingga tidak menimbulkan kegamangan dari pemerintah baik pusat maupun daerah untuk mengimplementasikan PP tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Sosialisasi dari PP tersebut maupun peraturan pelaksanaannya harus dilakukan dengan lebih intensif sehingga semua Satuan Kerja (Satker) di pemerintah pusat dan daerah sebagai ujung tombak pengelolaan kekayaan negara serta masyarakat dapat lebih memahami pentingnya pengelolaan kekayaan negara yang baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Pengawasan terhadap pelaksanaan PP ini harus lebih diperketat baik pengawasan intern maupun ekstern sehingga setiap penyimpangan dapat segera ditindaklanjuti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Sementara itu, Menteri Keuangan cq. DJKN yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah sebagai “Penguasa” barang sesuai dengan pasal 33 ayat (3) UUD 1945 maupun sebagai “Pengelola” barang sesuai dengan PP nomor 6 tahun 2006 harus bekerja keras guna mewujudkan harapan masyarakat akan terciptanya pengelolaan kekayaan negara yang lebih baik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Untuk itu, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh DJKN agar harapan publik tersebut dapat terwujud dengan baik:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Tumbuhkan kesadaran bahwa tugas yang diemban oleh DJKN saat ini adalah tugas yang sangat berat sekaligus sangat penting.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seperti telah Penulis ungkap sebagai prolog dari tulisan ini,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bilamana langkah terasa berat maka itu tandanya DJKN sedang mendaki ke tempat yang lebih tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Mengutip Rhenald Kasali (2005): “&lt;i&gt;Tumbuhkan kesadaran bahwa setiap awal pasti sulit&lt;/i&gt;”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pasti akan terasa sulit bagi DJKN untuk memulai pengelolaan kekayaan negara yang selama ini belum berjalan dengan baik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun, untuk mencapai langkah yang ke-seribu, harus dimulai dengan langkah pertama yang pasti berat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kalau sudah biasa, maka masyarakat dapat menikmati manisnya kesuksesan pengelolaan kekayaan negara yang baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Perlunya kepemimpinan yang kuat dan dukungan dari segenap staf DJKN untuk berkomitmen memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat melalui pengelolaan kekayaan negara yang lebih baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Tahap Lanjutan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Setelah semua upaya tersebut, langkah lanjutan apa yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk memenuhi harapan masyarakat akan pengelolaan kekayaan negara yang baik?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seperti telah Penulis kemukakan di atas bahwa kekayaan negara bukan hanya mencakup “Barang Milik Negara” saja tapi meliputi juga “Barang Dikuasai Negara”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Untuk itu, diperlukan suatu Undang-Undang (UU) yang merupakan induk dari pengelolaan kekayaan negara tanpa mengesampingkan Undang-Undang (UU) yang telah ada seperti UU nomor 23 tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup, UU nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan gas bumi, UU nomor 27 tahun 2003 tentang Panas Bumi, UU nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, UU nomor 19 tahun 2004 tentang Kehutanan, dan UU Energi yang baru saja disahkan oleh DPR.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;UU ini, katakanlah UU Pengelolaan Kekayaan Negara, berperan sebagai UU induk yang mengatur tentang pengelolaan “Barang Dikuasai Negara” secara umum sesuai dengan pasal 33 ayat (3) UUD 1945.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Dengan demikian, semua jenis kekayaan negara baik itu “milik” ataupun “dikuasai” negara sudah memiliki payung hukum yang kuat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seandainya UU tersebut sudah terwujud maka langkah berikutnya adalah membenahi sektor Sumber Daya Manusia (SDM) yang akan mengeksekusi UU tersebut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seperti pepatah barat yang mengatakan bahwa yang menentukan keberhasilan adalah “&lt;i&gt;The man behind the gun&lt;/i&gt;”, demikian juga dengan UU ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;UU ini hanya akan menjadi “macan kertas” kalau pelaksananya di lapangan “melempem”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Satu hal yang seringkali terlupakan adalah peran serta masyarakat dalam keberhasilan pengelolaan kekayaan negara.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pemerintah perlu untuk melibatkan masyarakat dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran publik tentang pentingnya pengelolaan kekayaan negara.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Peran aktif dari masyarakat sangat diperlukan terutama dalam hal pengawasan pengelolaan kekayaan negara sehingga tidak terjadi hal-hal seperti penjarahan aset negara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Kesimpulan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dari pembahasan di atas, ada beberapa kesimpulan penting yang dapat Penulis ambil yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Kekayaan Negara adalah alat pemerintah untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Pengelolaan Kekayaan Negara yang efisien, efektif dan optimal adalah kunci keberhasilan pemerintah dalam melayani masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Landasan hukum yang kokoh dan terintegrasi sangat diperlukan untuk mengelola kekayaan negara sehingga tercipta kepastian hukum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Kepemimpinan yang kuat dan dukungan dari staf pengelola kekayaan negara, khususnya DJKN,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sangat dibutuhkan guna menjamin tercapainya tujuan pengelolaan kekayaan negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Dukungan dan peran aktif masyarakat juga ikut menentukan keberhasilan pengelolaan kekayaan negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;== ooooooo ==&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Mistral;font-size:14;"  &gt;By: Muhamad Nahdi, July 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:Mistral;font-size:14;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Referensi :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Better Practice Guide&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;, &lt;i&gt;Asset Management Handbook&lt;/i&gt;, 1996.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Asset Management: Advancing the State of the Art Into the 21st Century Through Public-Private Dialogue”. Federal Highway Administration and the American Association of State Highway and Transportation Officials , &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;1996.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Kasali, Rhenald. &lt;i&gt;Change&lt;/i&gt;. Pustaka Gramedia Utama. 2005&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7826605099230154058-6639246782139738472?l=muhamadnahdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/feeds/6639246782139738472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7826605099230154058&amp;postID=6639246782139738472' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/6639246782139738472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7826605099230154058/posts/default/6639246782139738472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhamadnahdi.blogspot.com/2008/01/era-baru-pengelolaan-kekayaan-negara-di.html' title='Artikel: Era Baru Pengelolaan Kekayaan Negara di Indonesia'/><author><name>Muhamad Nahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13895818554894406857</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_NIqtfIpsnuc/SIPjwwbprOI/AAAAAAAAABc/7CFhqXQ054w/S220/Picture0009(1).jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry></feed>
